Yandex Metrica angkutan udara niaga

Kontak :

0813-1551-3353

E-mail :

admin@legalitas.co.id

Tag: angkutan udara niaga

Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal

Berdasarkan Per­me­n­hub No. 12 Tahun 2021 Ten­tang Stan­dar Kegiatan Usa­ha dan Pro­duk pada Penye­leng­garaan Per­iz­inan Berusa­ha Berba­sis Resiko Sek­tor Trans­portasi

Daf­tar KBLI Terkait :

  1. 51101 : Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al Dalam Negeri Untuk Penumpang Atau Penumpang Dan Kar­go.
  2. 51103 : Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al Luar Negeri Untuk Penumpang Atau Penumpang Dan Kar­go.
  3. 51201 : Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al Dalam Negeri Untuk Kar­go
  4. 51203 : Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al Luar Negeri Untuk Kar­go.

Per­syaratan Umum

  1. Per­syaratan dis­esuaikan den­gan keten­tu­an Lem­ba­ga OSS;
  2. Berben­tuk Badan Hukum Indone­sia yang selu­ruh atau seba­gian besar modal­nya, harus dim­i­li­ki oleh badan hukum Indone­sia atau war­ga negara Indone­sia. Dalam hal modal badan usa­ha angku­tan udara nia­ga nasion­al yang dim­i­li­ki oleh badan hukum Indone­sia atau war­ga negara Indone­sia terba­gi atas beber­a­pa pemi­lik modal, salah satu pemi­lik modal nasion­al harus tetap lebih besar dari keselu­ruhan pemi­lik modal asing (sin­gle major­i­ty)
  3. Durasi wak­tu pemenuhan per­iz­inan berusa­ha sesuai den­gan keten­tu­an lem­ba­ga OSS

Per­syaratan Khusus

  1. Seti­ap pemo­hon per­iz­inan berusa­ha harus memi­li­ki ren­cana usa­ha (busi­ness plan) untuk kurun wak­tu min­i­mal 5 (lima) tahun yang telah ter­ver­i­fikasi pal­ing sedik­it memu­at:
    • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan (karak­ter­is­tik dan spe­si­fikasi pesawat, cara per­ole­han, jum­lah kebu­tuhan pesawat, util­isasi pesawat udara);
    • Ren­cana pusat kegiatan operasi pener­ban­gan (oper­a­tion base) dan ren­cana rute pener­ban­gan;
    • Ren­cana kebu­tuhan SDM yang ter­diri dari man­a­je­men, teknisi dan per­son­el pesawat udara; dan
    • Aspek ekono­mi dan keuan­gan.
  2. Apa­bi­la Badan Usa­ha Angku­tan Udara melakukan peruba­han rute lebih dari 10% (sepu­luh per ser­a­tus) dalam per­iz­inan berusa­ha bagi badan usa­ha angku­tan udara nia­ga ber­jad­w­al, pemegang per­iz­inan berusa­ha harus memenuhi per­syaratan beru­pa:
    • Reken­ing koran 3 (tiga) bulan ter­akhir;
    • Ren­cana usa­ha (busi­ness plan) untuk kurun wak­tu min­i­mal 5 (lima) tahun yang telah ter­ver­i­fikasi, pal­ing sedik­it memu­at:
      • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan (karak­ter­is­tik dan spe­si­fikasi pesawat, cara per­ole­han, jum­lah kebu­tuhan pesawat, util­isasi pesawat udara);
      • Ren­cana pusat kegiatan operasi pener­ban­gan (oper­a­tion base) dan ren­cana rute pen­er ban­gan;
      • Ren­cana kebu­tuhan SDM yang ter­diri dari man­a­je­men, teknisi dan per­son­el pesawat udara; dan
      • Aspek ekono­mi dan keuan­gan.
  3. Apa­bi­la Badan Usa­ha Angku­tan Udara melakukan penam­ba­han rute sam­pai den­gan 10% (sepu­luh per ser­a­tus) dalam per­iz­inan berusa­ha bagi badan usa­ha angku­tan udara nia­ga ber­jad­w­al, pemegang per­iz­inan berusa­ha harus memenuhi per­syaratan beru­pa:
    • Reken­ing koran 3 (tiga) bulan ter­akhir;
    • Ren­cana usa­ha (busi­ness plan) untuk kurun wak­tu min­i­mal 5 (lima) tahun yang telah ter­ver­i­fikasi, pal­ing sedik­it memu­at:
      • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan;
      • Ren­cana rute pener­ban­gan;
      • Ren­cana kebu­tuhan SDM yang ter­diri dari  man­a­je­men, teknisi dan per­son­el pesawat udara; dan
      • Aspek ekono­mi dan keuan­gan.
  4. Pengem­ban­gan usa­ha beru­pa peruba­han atau penam­ba­han jenis kegiatan angku­tan udara, pemegang per­iz­inan berusa­ha harus memenuhi per­syaratan beru­pa:
    • Reken­ing koran 3 (tiga) bulan ter­akhir;
    • Ren­cana usa­ha (busi­ness plan) untuk kurun wak­tu min­i­mal 5 (lima) tahun yang telah  ter­ver­i­fikasi, pal­ing sedik­it memu­at:
      • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan;
      • Ren­cana pusat kegiatan operasi pener­ban­gan (oper­a­tion base) dan rute pener­ban­gan:
      • Ren­cana kebu­tuhan SDM yang ter­diri dari man­a­je­men, teknisi dan per­son­el pesawat udara; dan
      • Aspek ekono­mi dan keuan­gan
  5. Untuk men­ga­jukan per­gant­ian rute pener­ban­gan dalam per­iz­inan berusa­ha, den­gan per­syaratan ren­cana usa­ha yang telah ter­ver­i­fikasi pal­ing sedik­it memu­at:
    • Ren­cana rute pener­ban­gan;
    • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan; dan
    • Jus­ti­fikasi peng­gant­ian rute pener­ban­gan.
  6. Untuk men­ga­jukan pengem­ban­gan usa­ha beru­pa peruba­han jum­lah dan/atau tipe pesawat udara, pemegang per­iz­inan berusa­ha harus memenuhi per­syaratan pal­ing sedik­it:
    • Reken­ing koran 3 (tiga) bulan ter­akhir (bagi penam­ba­han jum­lah pesawat udara);
    • Ren­cana usa­ha (busi­ness plan) untuk kurun wak­tu min­i­mal 5 (lima) tahun yang telah  ter­ver­i­fikasi, pal­ing sedik­it  memu­at:
      • Jenis dan jum­lah pesawat udara yang akan diop­erasikan (karak­ter­is­tik dan spe­si­fikasi pesawat, cara per­ole­han, jum­lah kebu­tuhan pesawat, util­isasi pesawat udara)
      • Rute pener­ban­gan;
      • Ren­cana kebu­tuhan SDM yang ter­diri dari man­a­je­men, teknisi dan per­son­el pesawat udara; dan
      • Aspek ekono­mi dan keuan­gan.
  7. Untuk men­ga­jukan peruba­han data admin­is­trasi Angku­tan Udara  Nia­ga Ber­jad­w­al, Badan Usa­ha Angku­tan Udara wajib memenuhi per­syaratan beru­pa:
    • Peruba­han data admin­is­trasi; dan
    • Tan­da buk­ti modal yang dis­e­tor (jika ada peruba­han modal dasar dan modal dis­e­tor).
  8. Badan Usa­ha Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al memi­li­ki ser­ti­fikat oper­a­tor pesawat udara (air­op­er­a­tor cer­tifi­cate) sesuai keten­tu­an per­at­u­ran kese­la­matan pener­ban­gan sip­il sebelum melakukan pen­g­op­erasian.
  9. Badan Usa­ha Angku­tan Udara Nia­ga Ber­jad­w­al wajib memenuhi keten­tu­an kese­la­matan, kea­manan dan pelayanan pener­ban­gan
  10. Dalam hal melakukan pen­gangku­tan barang berba­haya, wajib memenuhi stan­dar kese­la­matan pen­gangku­tan barang berba­haya den­gan pesawat udara
  11. Pelak­sanaan kegiatan angku­tan udara dilak­sanakan berdasarkan per­se­tu­juan rute pener­ban­gan dari Menteri Per­hubun­gan.
  12. Dalam hal pelak­sanaan pener­ban­gan dilakukan dilu­ar keten­tu­an per­se­tu­juan rute penerbangan,maka pelak­sanakan pener­ban­gan dilak­sanakan berdasarkan per­se­tu­juan ter­bang (flight approval) sesuai den­gan keten­tu­an.
  13. Men­er­ap­kan tarif untuk pelayanan kelas ekono­mi angku­tan udara nia­ga ber­jad­w­al dalam negeri sesuai den­gan keten­tu­an per­at­u­ran perun­dang-undan­gan

Sarana dan Prasarana

  1. Angku­tan udara nia­ga ber­jad­w­al untuk men­gangkut penumpang atau penumpang dan kar­go memi­li­ki pesawat udara den­gan jum­lah pal­ing sedik­it 1 (satu) unit dan men­gua­sai pal­ing sedik­it 2 (dua) unit den­gan jenis yang men­dukung kelang­sun­gan opera­sion­al pener­ban­gan sesuai den­gan rute yang dilayani.
  2. Angku­tan udara nia­ga ber­jad­w­al khusus kar­go memi­li­ki pesawat udara den­gan jum­lah pal­ing sedik­it 1 (satu) unit Pesawat Udara dan Pesawat Udara yang lain­nya dalam ben­tuk men­gua­sai den­gan jenis yang men­dukung kelang­sun­gan opera­sion­al pener­ban­gan sesuai den­gan rute yang dilayani;
  3. Gedung seba­gai kan­tor pusat, kan­tor cabang, kan­tor per­wak­i­lan ser­ta fasil­i­tas pen­dukung opera­sion­al lain­nya (kendaraan opera­sion­al, jaringan inter­net dan teleko­mu­nikasi, dan lain-lain).