Yandex Metrica cara urus skup migas

Kontak :

0813-1551-3353

E-mail :

admin@legalitas.co.id

Tag: cara urus skup migas

Baca Ini, Aturan Baru Izin Usaha Penunjang SKUP Migas

Ref­er­en­si Per­at­u­ran :

Per­at­u­ran Menteri Ener­gi Dan Sum­ber Daya Min­er­al Repub­lik Indone­sia Nomor 14 tahun 2018 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak Dan Gas Bumi, Tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018.

Pada tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018, Kementer­ian ESDM telah mener­bitkan Per­at­u­ran Menteri ESDM Nomor 14 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi untuk meng­gan­tikan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi yang dicabut dan diny­atakan tidak berlaku.

  1. Bah­wa untuk men­cip­takan kegiatan usa­ha minyak dan gas bumi yang mandiri, andal, transparan, ber­daya saing, efisien dan men­dorong berkem­bangnya poten­si dan per­anan nasion­al pada kegiatan usa­ha penun­jang dalam kegiatan usa­ha minyak d m gas bumi, per­lu men­gatur kem­bali kegiatan usa­ha penun­jang minyak dan gas bumi seba­gaimana diatur dalam Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Surn­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi,
  2. bah­wa berdasarkan per­tim­ban­gan seba­gaimana dimak­sud dalam huruf a, per­lu rnene­tap­kan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi.

Memu­tuskan, dan mene­tap­kan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi Dan Sum­ber Daya Min­er­al Repub­lik Indone­sia Nomor 14 tahun 2018 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak Dan Gas Bumi, Tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018.

Dan pada Keten­tu­an Penut­up Pasa 21 juga dise­butkan Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku, maka Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi dicabut dan diny­atakan tidak berlaku.

Den­gan adanya per­at­u­ran ini, efek­tif per 1 Maret 2018 Dir­jen Migas tidak lagi mener­bitkan Izin dalam ben­tuk SKT Migas dan meng­gan­ti men­ja­di Izin Surat Kemam­puan Usa­ha Penun­jang (SKUP) Migas yang sis­tem pen­ga­juan per­mo­ho­nanya den­gan cara Man­u­al (offline).

Masih dalam per­at­u­ran ini dise­butkan, yang dap­at men­ja­di Pelak­sana Kegiatan Usa­ha Penun­jang Migas adalah Badan Usa­ha Perusa­haan atau Perse­o­ran­gan. Perusa­haan yang dimak­sud adalah Perusa­haan Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Perusa­haan Modal Asing (PMA).

Perusa­haan adalah Badan Usa­ha Milik Negara, Badan Usa­ha Milik Daer­ah, Kop­erasi, dan Badan Usa­ha Swasta yang berbadan hukum Indone­sia yang berg­er­ak dalam bidang Usa­ha Penun­jang Migas.

Sedan­gkan Perse­o­ran­gan yang dimak­sud adalah orang perse­o­ran­gan, perseroan koman­diter, dan Fir­ma yang mem­pun­yai keahlian ter­ten­tu untuk mem­berikan pelayanan Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas.

Baca juga : Urus Izin Usa­ha SKUP Migas

Per­at­u­ran Menteri ini juga men­gatur jenis-jenis Klasi­fikasi Kegiatan Usa­ha Penun­jang Migas, berikut ini daf­tar klasi­fikasi (Pasal 5) yaitu :

  1. Usa­ha Jasa Kon­struk­si Migas;
  2. Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas; dan
  3. Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas.

Pasal 6 (1) Usa­ha Jasa Kon­struk­si Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf a ter­diri atas:

  1. Usa­ha Jasa Kon­sul­tan­si Kon­struk­si;
  2. Usa­ha Peker­jaan Kon­struk­si; dan
  3. Usa­ha Peker­jaan Kon­struk­si Ter­in­te­grasi.

(2) Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf b ter­diri atas:

  1. Jasa Geolo­gi dan Geofisi­ka;
  2. Jasa Pem­b­o­ran;
  3. Jasa Inspeksi Tek­nis dan Pen­gu­jian Tek­nis;
  4. Jasa Peker­jaan Pas­ka Operasi;
  5. Jasa Penelit­ian dan Pengem­ban­gan;
  6. Jasa Pen­go­la­han Lim­bah;
  7. Jasa Penye­waan Pen­gangku­tan; dan
  8. Jasa Pen­g­op­erasian dan Pemeli­haraan.

(3) Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf c ter­diri atas :

  1. Indus­tri Mate­r­i­al, dan
  2. Indus­tri Per­ala­tan.

Pasal 7 (1) Usa­ha Jasa Kon­sul­tan­si Kon­struk­si seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dilak­sanakan oleh Perusa­haan Enjinir­ing.

(2) Per­syaratan Perusa­haan Enjinir­ing meliputi:

  1. Perusa­haan dalarn negeri atau perusa­haan nasion­al yang pen­gen­dalian man­a­je­men­nya bera­da pada war­ga negara Indone­sia.
  2. Memi­li­ki dan men­er­ap­kan sis­tem man­a­je­men mutu , dan telah terser­ti­fikasi oleh lem­ba­ga ser­ti­fikasi yang telah ter­akred­i­tasi;
  3. Memi­li­ki tena­ga ahli yang berkual­i­fikasi dan/atau berkom­pe­ten­si; dan
  4. Memi­li­ki per­ala­tan dan atau fasil­i­tas beru­pa piran­ti lunak untuk peker­jaan penelaa­han dis­ain, anal­i­sis risiko atau peni­la­ian per­pan­jan­gan umur layan.

Izin SKUP MIGAS

Pasal 9 ( 1 ) Untuk pem­bi­naan dan pen­ingkatan kemam­puan Usa­ha Penun­jang Migas, Direk­tur Jen­der­al mener­bitkan SKUP Migas ter­hadap Perusa­haan atau perse­o­ran­gan.

Pasal 11 (2) SKUP Migas seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) memu­at per­ingkat untuk seti­ap klasi­fikasi Usa­ha Penun­jang Migas seba­gai berikut:

A. Untuk kemam­puan Usa­ha Jasa Kon­struk­si didasarkan pada:

1. Sta­tus usa­ha dan finan­cial, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh) meliputi :

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak;

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 40 (empat puluh), meliputi :

a) kepemi­likan alat dan/atau perangkat lunak;

b) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja; dan

c) spesifikasi/standar mutu pro­duk dan/atau kemam­puan man­a­je­men proyek;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai mak­si­mal 20 (dua puluh), meliputi pen­gala­man perusa­haan dan pen­gala­man per­son­il;

4. Sis­tem man­a­je­men mutu, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu;

5. Pen­er­a­pan kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja ser­ta per­lin­dun­gan lingkun­gan hidup, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi:

a) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan rantai suplai, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan

7. Kual­i­tas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi kual­i­tas jasa dan layanan pur­na jual.

B. Untuk kemam­puan Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si didasarkan pada :

1.Status usa­ha dan financial,dengan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh) meliputi :

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak;

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 40 (empat puluh), meliputi :

a) kepemi­likan alat; dan

b) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai maksimal20 (dua puluh), meliputi pen­gala­man perusa­haan dan pen­gala­man per­son­il;

4. Sis­tem man­a­je­men mutu, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu.

5. Pen­er­a­pan kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja ser­ta per­lin­dun­gan lingkun­gan hidup, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi :

a) Stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan rantai suplai, den­gan bobot. Nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan

7. Kual­i­tas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima),meliputi kual­i­tas jasa dan layanan puma jual.

C. Untuk kemam­puan Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas didasarkan pada:

  1. Sta­tus usa­ha dan finan­cial, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi:

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak,

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas pro­duk­si, den­gan bobot nilai mak­si­mal 30 (tiga puluh), meliputi:

a) fasil­i­tas pro­duk­si dan pen­dukung;

b) kepemi­likan alat pro­duk­si;

c) kepemi­likan alat uji; dan

d) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai mak­si­mal 15 (lima­belas);

4. Spesifikasi/standar mutu pro­duk, den­gan bobot nilai mak­si­mal 15 (lima belas), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi pro­duk;

5. Pen­er­a­pan sis­tem man­a­je­men, den­gan bobot nilai maksimal20 (dua puluh), meliputi :

a) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

c) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan pemasaran, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup pemasaran lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan.

7. Jaringan pur­na jual, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi jam­i­nan kual­i­tas pro­duk dan layanan pur­na jual.

Pada Pasal 20 BAB VI di Per­at­u­ran Menteri ini diatur ten­tang Keten­tu­an Per­al­i­han. Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini berlaku:

  1. SKUP Migas yang telah diter­bitkan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini, diny­atakan tetap berlaku sam­pai den­gan berakhirnya jang­ka wak­tu SKUP Migas.
  2. Surat Keteran­gan Terdaf­tar (SKT) MIGAS yang telah diter­bitkan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini diny­atakan tidak berlaku.
  3. Per­mo­ho­nan Surat Keteran­gan Terdaf­tar (SKT) MIGAS yang telah dia­jukan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini, tidak dipros­es penye­le­sa­ian­nya.
  4. Per­mo­ho­nan SKUP Migas yang telah dia­jukan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini tetap dipros­es penye­le­sa­ian­nya berdasarkan Per­at­u­ran Menteri ini.

Den­gan diter­bitkan­nya Per­at­u­ran Menteri terse­but, maka san­gat pent­ing untuk perusa­haan yang berkai­tan den­gan izin usa­ha ini untuk mem­per­ba­harui per­iz­inan usa­hanya menye­suaikan Per­at­u­ran ini.