Yandex Metrica Blog | Legalitas.Co.id

Kontak :

0813-1551-3353

E-mail :

admin@legalitas.co.id

Kategori: Blog

Baca Ini, Aturan Baru Izin Usaha Penunjang SKUP Migas

Ref­er­en­si Per­at­u­ran :

Per­at­u­ran Menteri Ener­gi Dan Sum­ber Daya Min­er­al Repub­lik Indone­sia Nomor 14 tahun 2018 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak Dan Gas Bumi, Tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018.

Pada tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018, Kementer­ian ESDM telah mener­bitkan Per­at­u­ran Menteri ESDM Nomor 14 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi untuk meng­gan­tikan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi yang dicabut dan diny­atakan tidak berlaku.

  1. Bah­wa untuk men­cip­takan kegiatan usa­ha minyak dan gas bumi yang mandiri, andal, transparan, ber­daya saing, efisien dan men­dorong berkem­bangnya poten­si dan per­anan nasion­al pada kegiatan usa­ha penun­jang dalam kegiatan usa­ha minyak d m gas bumi, per­lu men­gatur kem­bali kegiatan usa­ha penun­jang minyak dan gas bumi seba­gaimana diatur dalam Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Surn­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi,
  2. bah­wa berdasarkan per­tim­ban­gan seba­gaimana dimak­sud dalam huruf a, per­lu rnene­tap­kan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi.

Memu­tuskan, dan mene­tap­kan Per­at­u­ran Menteri Ener­gi Dan Sum­ber Daya Min­er­al Repub­lik Indone­sia Nomor 14 tahun 2018 Ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak Dan Gas Bumi, Tang­gal 21 Feb­ru­ari 2018.

Dan pada Keten­tu­an Penut­up Pasa 21 juga dise­butkan Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku, maka Per­at­u­ran Menteri Ener­gi dan Sum­ber Daya Min­er­al Nomor 27 Tahun 2008 ten­tang Kegiatan Usa­ha Penun­jang Minyak dan Gas Bumi dicabut dan diny­atakan tidak berlaku.

Den­gan adanya per­at­u­ran ini, efek­tif per 1 Maret 2018 Dir­jen Migas tidak lagi mener­bitkan Izin dalam ben­tuk SKT Migas dan meng­gan­ti men­ja­di Izin Surat Kemam­puan Usa­ha Penun­jang (SKUP) Migas yang sis­tem pen­ga­juan per­mo­ho­nanya den­gan cara Man­u­al (offline).

Masih dalam per­at­u­ran ini dise­butkan, yang dap­at men­ja­di Pelak­sana Kegiatan Usa­ha Penun­jang Migas adalah Badan Usa­ha Perusa­haan atau Perse­o­ran­gan. Perusa­haan yang dimak­sud adalah Perusa­haan Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Perusa­haan Modal Asing (PMA).

Perusa­haan adalah Badan Usa­ha Milik Negara, Badan Usa­ha Milik Daer­ah, Kop­erasi, dan Badan Usa­ha Swasta yang berbadan hukum Indone­sia yang berg­er­ak dalam bidang Usa­ha Penun­jang Migas.

Sedan­gkan Perse­o­ran­gan yang dimak­sud adalah orang perse­o­ran­gan, perseroan koman­diter, dan Fir­ma yang mem­pun­yai keahlian ter­ten­tu untuk mem­berikan pelayanan Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas.

Baca juga : Urus Izin Usa­ha SKUP Migas

Per­at­u­ran Menteri ini juga men­gatur jenis-jenis Klasi­fikasi Kegiatan Usa­ha Penun­jang Migas, berikut ini daf­tar klasi­fikasi (Pasal 5) yaitu :

  1. Usa­ha Jasa Kon­struk­si Migas;
  2. Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas; dan
  3. Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas.

Pasal 6 (1) Usa­ha Jasa Kon­struk­si Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf a ter­diri atas:

  1. Usa­ha Jasa Kon­sul­tan­si Kon­struk­si;
  2. Usa­ha Peker­jaan Kon­struk­si; dan
  3. Usa­ha Peker­jaan Kon­struk­si Ter­in­te­grasi.

(2) Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf b ter­diri atas:

  1. Jasa Geolo­gi dan Geofisi­ka;
  2. Jasa Pem­b­o­ran;
  3. Jasa Inspeksi Tek­nis dan Pen­gu­jian Tek­nis;
  4. Jasa Peker­jaan Pas­ka Operasi;
  5. Jasa Penelit­ian dan Pengem­ban­gan;
  6. Jasa Pen­go­la­han Lim­bah;
  7. Jasa Penye­waan Pen­gangku­tan; dan
  8. Jasa Pen­g­op­erasian dan Pemeli­haraan.

(3) Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 5 huruf c ter­diri atas :

  1. Indus­tri Mate­r­i­al, dan
  2. Indus­tri Per­ala­tan.

Pasal 7 (1) Usa­ha Jasa Kon­sul­tan­si Kon­struk­si seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dilak­sanakan oleh Perusa­haan Enjinir­ing.

(2) Per­syaratan Perusa­haan Enjinir­ing meliputi:

  1. Perusa­haan dalarn negeri atau perusa­haan nasion­al yang pen­gen­dalian man­a­je­men­nya bera­da pada war­ga negara Indone­sia.
  2. Memi­li­ki dan men­er­ap­kan sis­tem man­a­je­men mutu , dan telah terser­ti­fikasi oleh lem­ba­ga ser­ti­fikasi yang telah ter­akred­i­tasi;
  3. Memi­li­ki tena­ga ahli yang berkual­i­fikasi dan/atau berkom­pe­ten­si; dan
  4. Memi­li­ki per­ala­tan dan atau fasil­i­tas beru­pa piran­ti lunak untuk peker­jaan penelaa­han dis­ain, anal­i­sis risiko atau peni­la­ian per­pan­jan­gan umur layan.

Izin SKUP MIGAS

Pasal 9 ( 1 ) Untuk pem­bi­naan dan pen­ingkatan kemam­puan Usa­ha Penun­jang Migas, Direk­tur Jen­der­al mener­bitkan SKUP Migas ter­hadap Perusa­haan atau perse­o­ran­gan.

Pasal 11 (2) SKUP Migas seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) memu­at per­ingkat untuk seti­ap klasi­fikasi Usa­ha Penun­jang Migas seba­gai berikut:

A. Untuk kemam­puan Usa­ha Jasa Kon­struk­si didasarkan pada:

1. Sta­tus usa­ha dan finan­cial, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh) meliputi :

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak;

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 40 (empat puluh), meliputi :

a) kepemi­likan alat dan/atau perangkat lunak;

b) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja; dan

c) spesifikasi/standar mutu pro­duk dan/atau kemam­puan man­a­je­men proyek;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai mak­si­mal 20 (dua puluh), meliputi pen­gala­man perusa­haan dan pen­gala­man per­son­il;

4. Sis­tem man­a­je­men mutu, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu;

5. Pen­er­a­pan kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja ser­ta per­lin­dun­gan lingkun­gan hidup, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi:

a) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan rantai suplai, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan

7. Kual­i­tas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi kual­i­tas jasa dan layanan pur­na jual.

B. Untuk kemam­puan Usa­ha Jasa Nonkon­struk­si didasarkan pada :

1.Status usa­ha dan financial,dengan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh) meliputi :

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak;

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 40 (empat puluh), meliputi :

a) kepemi­likan alat; dan

b) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai maksimal20 (dua puluh), meliputi pen­gala­man perusa­haan dan pen­gala­man per­son­il;

4. Sis­tem man­a­je­men mutu, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu.

5. Pen­er­a­pan kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja ser­ta per­lin­dun­gan lingkun­gan hidup, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi :

a) Stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan rantai suplai, den­gan bobot. Nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan

7. Kual­i­tas jasa, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima),meliputi kual­i­tas jasa dan layanan puma jual.

C. Untuk kemam­puan Usa­ha Indus­tri Penun­jang Migas didasarkan pada:

  1. Sta­tus usa­ha dan finan­cial, den­gan bobot nilai mak­si­mal 10 (sepu­luh), meliputi:

a) legal­i­tas pendiri­an perusa­haan;

b) legal­i­tas pen­gangkatan direk­si dan komis­aris;

c) legal­i­tas pajak,

d) lapo­ran keuan­gan; dan

e) legal­i­tas sta­tus usa­ha;

2. Kemampuan/kapasitas pro­duk­si, den­gan bobot nilai mak­si­mal 30 (tiga puluh), meliputi:

a) fasil­i­tas pro­duk­si dan pen­dukung;

b) kepemi­likan alat pro­duk­si;

c) kepemi­likan alat uji; dan

d) sta­tus dan kual­i­fikasi tena­ga ker­ja;

3. Pen­gala­man perusa­haan, den­gan bobot nilai mak­si­mal 15 (lima­belas);

4. Spesifikasi/standar mutu pro­duk, den­gan bobot nilai mak­si­mal 15 (lima belas), meliputi stan­dar dan ser­ti­fikasi pro­duk;

5. Pen­er­a­pan sis­tem man­a­je­men, den­gan bobot nilai maksimal20 (dua puluh), meliputi :

a) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men mutu

b) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men lingkun­gan; dan

c) stan­dar dan ser­ti­fikasi man­a­je­men kese­la­matan dan kese­hatan ker­ja;

6. Jaringan pemasaran, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi lingkup pemasaran lokal, nasion­al dan inter­na­sion­al; dan.

7. Jaringan pur­na jual, den­gan bobot nilai mak­si­mal 5 (lima), meliputi jam­i­nan kual­i­tas pro­duk dan layanan pur­na jual.

Pada Pasal 20 BAB VI di Per­at­u­ran Menteri ini diatur ten­tang Keten­tu­an Per­al­i­han. Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini berlaku:

  1. SKUP Migas yang telah diter­bitkan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini, diny­atakan tetap berlaku sam­pai den­gan berakhirnya jang­ka wak­tu SKUP Migas.
  2. Surat Keteran­gan Terdaf­tar (SKT) MIGAS yang telah diter­bitkan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini diny­atakan tidak berlaku.
  3. Per­mo­ho­nan Surat Keteran­gan Terdaf­tar (SKT) MIGAS yang telah dia­jukan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini, tidak dipros­es penye­le­sa­ian­nya.
  4. Per­mo­ho­nan SKUP Migas yang telah dia­jukan sebelum berlakun­ya Per­at­u­ran Menteri ini tetap dipros­es penye­le­sa­ian­nya berdasarkan Per­at­u­ran Menteri ini.

Den­gan diter­bitkan­nya Per­at­u­ran Menteri terse­but, maka san­gat pent­ing untuk perusa­haan yang berkai­tan den­gan izin usa­ha ini untuk mem­per­ba­harui per­iz­inan usa­hanya menye­suaikan Per­at­u­ran ini.

Sebelum Urus Izin IPAK, Ini Syarat Yang Wajib Anda Ketahui

Ref­er­en­si Per­at­u­ran :

  1. Per­at­u­ran Menteri Kese­hatan Repub­lik Indone­sia Nomor 1191/Menkes/Per/Viii/2010 Ten­tang Penyalu­ran Alat Kese­hatan, Tang­gal 23 Agus­tus 2010
  2. Per­at­u­ran Menteri Kese­hatan Repub­lik Indone­sia Nomor 1190/Menkes/Per/Viii/2010 Ten­tang Penyalu­ran Alat Kese­hatan
  3. Kepu­tu­san Direk­tur Jen­der­al Bina Kefar­masian Dan Alat Kese­hatan Nomor Hk.02.03/I/770/2014 Ten­tang Pedo­man Pelayanan Izin Penyalur Alat Kese­hatan, Tang­gal 18 Agus­tus 2014

Defenisi Umum

Seper­ti ter­tuang dalam keten­tu­an Umum Per­at­u­ran Menteri Kese­hatan Repub­lik Indone­sia Nomor 1191/Menkes/Per/Viii/2010 Ten­tang Penyalu­ran Alat Kese­hatan, Pasal 1 angka 1,2,3 dise­butkan Alat Kese­hatan adalah instru­men, apara­tus, mesin dan/atau implan yang tidak men­gan­dung obat yang digu­nakan untuk mence­gah, men­di­ag­no­sis, menyem­buhkan dan meringankan penyak­it, mer­awat orang sak­it, memulihkan kese­hatan pada manu­sia, dan/atau mem­ben­tuk struk­tur dan mem­per­bai­ki fungsi tubuh.

Penyalur Alat Kese­hatan, yang selan­jut­nya dis­ingkat PAK adalah perusa­haan berben­tuk badan hukum yang memi­li­ki izin untuk pen­gadaan, peny­im­panan, penyalu­ran alat kese­hatan dalam jum­lah besar sesuai keten­tu­an perun­dang-undan­gan.

Cabang Penyalur Alat Kese­hatan, yang selan­jut­nya dise­but Cabang PAK adalah unit usa­ha dari penyalur alat kese­hatan yang telah memi­li­ki pen­gakuan untuk melakukan kegiatan pen­gadaan, peny­im­panan, penyalu­ran alat kese­hatan dalam jum­lah besar sesuai keten­tu­an per­at­u­ran perun­dan­gun­dan­gan.

Selain alat kese­hatan seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 1 angka 1, alat kese­hatan dap­at juga men­gan­dung obat yang tidak men­ca­pai ker­ja uta­ma pada atau dalam tubuh manu­sia melalui pros­es far­makolo­gi, imunolo­gi, atau metab­o­lisme tetapi dap­at mem­ban­tu fungsi yang diinginkan dari alat kese­hatan den­gan cara terse­but.

Penyalu­ran Alat Kese­hatan

Pasal 5 ayat 1 menye­butkan bah­wa Penyalu­ran alat kese­hatan hanya dap­at dilakukan oleh perusa­haan PAK, Cabang PAK, dan toko alat kese­hatan. Dan pada ayat 2 selain penyalur seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1), alat kese­hatan ter­ten­tu dalam jum­lah ter­batas dap­at dis­alurkan oleh apotek dan peda­gang ecer­an obat.

Berdasarkan kemam­puan dari sarana dis­tribusi alat kese­hatan, Izin Penyalur Alat Kese­hatan dikelom­pokan men­ja­di 5 (lima) macam yaitu :

  1. Alat Kese­hatan Elek­tromedik Radi­asi
  2. Alat Kese­hatan Elek­tromedik Non Radi­asi
  3. Alat Kese­hatan Non Elek­tromedik Ster­il
  4. Alat Kese­hatan Non Elek­tromedik Non Ster­il
  5. Pro­duk Diag­nos­tik Invit­ro

Per­iz­inan

  • Seti­ap PAK dap­at mendirikan cabang PAK di selu­ruh wilayah Repub­lik Indone­sia.
  • Perusa­haan yang mem­pro­duk­si alat kese­hatan dalam negeri pemi­lik izin edar yang akan menyalurkan alat kese­hatan pro­duk­si sendiri harus memi­li­ki Izin PAK.
  • Peda­gang besar far­masi yang akan melakukan usa­ha seba­gai PAK harus memi­li­ki izin PAK.
  • Seti­ap perusa­haan Penyalur Alat Kese­hatan (PAK), Cabang PAK, dan toko alat kese­hatan wajib memi­li­ki izin.
  • Izin PAK seba­gaimana dimak­sud diatas diberikan oleh Direk­tur Jen­der­al
  • Izin Cabang PAK seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) diberikan oleh kepala Dinas kese­hatan provin­si.

Per­syaratan dan Tata Cara Men­ga­jukan Izin Penyalur Alat Kese­hatan (PAK) harus memenuhi per­syaratan seba­gai berikut:

  1. Berben­tuk badan hukum yang telah mem­per­oleh izin usa­ha sesuai den­gan keten­tu­an per­at­u­ran perun­dang-undan­gan;
  2. Memi­li­ki penang­gung jawab tek­nis yang bek­er­ja penuh, den­gan pen­didikan yang sesuai den­gan per­syaratan dan keten­tu­an yang berlaku;
  3. Memi­li­ki sarana dan prasarana beru­pa ruan­gan dan per­lengka­pan lain­nya yang memadai untuk kan­tor admin­is­trasi dan gudang den­gan sta­tus milik sendiri, kon­trak atau sewa pal­ing singkat 2 (dua) tahun;
  4. Memi­li­ki bengkel atau bek­er­ja sama den­gan perusa­haan lain dalam melak­sanakan jam­i­nan pur­na jual, untuk perusa­haan yang mendis­tribusikan alat kese­hatan yang memer­lukan­nya;
  5. Memenuhi Cara Dis­tribusi Alat Kese­hatan yang Baik (CDAKB)

Untuk dap­at diberikan izin PAK, pemo­hon harus mengiku­ti tata cara seba­gai berikut :

  1. Pemo­hon harus men­ga­jukan per­mo­ho­nan ter­tulis kepa­da Direk­tur Jen­der­al melalui kepala Dinas Kese­hatan Provin­si setem­pat.
  2. Kepala dinas kese­hatan provin­si selam­bat-lam­bat­nya 12 (dua belas) hari ker­ja sejak mener­i­ma tem­bu­san per­mo­ho­nan, berko­or­di­nasi den­gan kepala dinas kese­hatan kabupaten/kota untuk mem­ben­tuk tim pemerik­sa bersama untuk melakukan pemerik­saan setem­pat;
  3. Tim pemerik­sa bersama selam­bat-lam­bat­nya 12 (dua belas) hari ker­ja melakukan pemerik­saan setem­pat dan mem­bu­at beri­ta acara pemerik­saan sarana dan prasana.
  4. Apa­bi­la telah memenuhi per­syaratan, kepala dinas kese­hatan provin­si selam­bat-lam­bat­nya 6 (enam) hari ker­ja sete­lah mener­i­ma hasil pemerik­saan dari tim pemerik­sa bersama meneruskan kepa­da Direk­tur Jen­der­al

Masa Berlaku Izin PAK

Izin PAK berlaku sela­ma memenuhi per­syaratan :

  1. Melak­sanakan keten­tu­an CDAKB;
  2. Perusa­haan masih aktif melakukan kegiatan usa­ha.
  3. Direk­tur Jen­der­al melakukan audit menyelu­ruh ter­hadap PAK pal­ing lama seti­ap 5 (lima) tahun sekali sesuai den­gan CDAKB

Jika kesuli­tan atau tidak memi­li­ki wak­tu yang cukup untuk menger­jakan sendiri per­mo­ho­nan IPAK perusa­haan anda, silahkan hubun­gi kami.

Wajib Tahu, Syarat Terbaru Persetujuan Import Besi dan Baja Paduan Sesuai Permendag 22 Tahun 2018

Belum lama ini Kementer­ian Perda­gan­gan Repub­lik Indone­sia kem­bali melakukan peruba­han keti­ga atas Per­at­u­ran Menteri Perda­gan­gan atau Per­me­ndag No. 82 Tahun 2016 yang men­gatur ten­tang syarat dan keten­tu­an Impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan pro­duk turunan­nya.

Ada­pun Per­at­u­ran Menteri Perda­gan­gan RI Nomor 82 Tahun 2016 ini sebelum­nya telah men­gala­mi dua kali peruba­han. Peruba­han per­ta­ma adalah Per­me­ndag No. 63/M‑DAG/PER/8/2017 dan peruba­han ked­ua adalah Per­me­ndag No. 71/M‑DAG/PER/9 /2017.

Ada­pun Pasal-Pasal yang dilakukan peruba­han pada Per­me­ndag No. 22 Tahun 2018 peruba­han keti­ga ini adalah seba­gai berikut :

  1. Pada keten­tu­an Pasal 1 ten­tang Defenisi Keten­tu­an Pasal 4 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 4

(1) Untuk mem­per­oleh Per­se­tu­juan Impor seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 3 ayat (1), perusa­haan harus men­ga­jukan per­mo­ho­nan secara elek­tron­ik kepa­da Direk­tur Jen­der­al, den­gan melam­pirkan doku­men:

  1. API‑U atau API‑P;
  2. Kon­trak pen­jualan atau buk­ti peme­sanan, bagi perusa­haan pemi­lik API‑U yang mengim­por Besi atau Baja dan/atau Baja Pad­u­an; dan
  3. Mill cer­tifi­cate, untuk impor Baja Pad­u­an.

(2) Atas per­mo­ho­nan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1), Direk­tur Jen­der­al mener­bitkan Per­se­tu­juan Impor pal­ing lama 3 (tiga) hari ker­ja ter­hi­tung sejak per­mo­ho­nan diter­i­ma secara lengkap dan benar.

(3) Dalam hal per­mo­ho­nan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) tidak lengkap dan benar, Direk­tur Jen­der­al menyam­paikan pem­ber­i­tahuan peno­lakan per­mo­ho­nan pal­ing lama 3 (tiga) hari ker­ja ter­hi­tung sejak per­mo­ho­nan diter­i­ma.

3. Keten­tu­an Pasal 5 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 5

Per­se­tu­juan Impor seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 4 ayat (2) berlaku sela­ma:

  1. 1 (satu) tahun ter­hi­tung sejak tang­gal diter­bitkan, bagi perusa­haan pemi­lik API‑P; dan
  2. 6 (enam) bulan ter­hi­tung sejak tang­gal diter­bitkan, bagi perusa­haan pemi­lik API‑U.

4. Keten­tu­an Pasal 7 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 7

(1) Impor­tir Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya wajib mela­porkan seti­ap peruba­han yang terkait den­gan doku­men seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, dan men­ga­jukan per­mo­ho­nan peruba­han Per­se­tu­juan Impor.

(2) Untuk mem­per­oleh peruba­han Per­se­tu­juan Impor seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1), impor­tir Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya harus men­ga­jukan per­mo­ho­nan secara elek­tron­ik kepa­da Direk­tur Jen­der­al, den­gan melam­pirkan doku­men:

  1. doku­men yang men­gala­mi peruba­han seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1); dan
  2. Per­se­tu­juan Impor.

(3) Atas per­mo­ho­nan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (2), Direk­tur Jen­der­al mener­bitkan peruba­han Per­se­tu­juan Impor pal­ing lama 3 (tiga) hari ker­ja ter­hi­tung sejak per­mo­ho­nan diter­i­ma secara lengkap dan benar.

5. Keten­tu­an ayat (2) dalam Pasal 9 diubah sehing­ga Pasal 9 berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 9

(1) Perusa­haan pemi­lik API‑P dila­rang untuk mem­perda­gangkan dan/atau memindah­tan­gankan Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya yang diim­por kepa­da pihak lain.

(2) Perusa­haan pemi­lik API‑U hanya dap­at mem­perda­gangkan dan! atau memindah­tan­gankan Besi atau Baja, dan Baja Pad­u­an yang diim­pornya kepa­da perusa­haan sesuai den­gan kon­trak pen­jualan atau buk­ti peme­sanan seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b.

6. Keten­tu­an Pasal 12A diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 12A

(1) Pemerik­saan atas pemenuhan per­syaratan impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya dilakukan sete­lah melalui Kawasan Pabean.

(2) Per­syaratan impor seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) beru­pa:

  1. Per­se­tu­juan Impor; dan
  2. Lapo­ran Sur­vey­or.

(3) Impor­tir hams mem­bu­at perny­ataan secara mandiri (self dec­la­ra­tion) yang meny­atakan telah memenuhi per­syaratan impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an dan Pro­duk Turunan­nya sebelum barang impor terse­but digu­nakan, diperda­gangkan, dan/atau dipin­dah­tan­gankan.

(4) Impor­tir harus menyam­paikan pemy­ataan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (3) secara elek­tron­ik melalui http://inatrade.kemendag.go.id den­gan men­can­tumkan nomor Pem­ber­i­tahuan Impor Barang (PIB).

(5) Impor­tir wajib meny­im­pan doku­men per­syaratan impor seba­gaimana dimak­sud pada ayat (2) dan Pem­ber­i­tahuan Impor Barang (PIB) pal­ing sedik­it 5 (lima) tahun untuk keper­lu­an pemerik­saan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1).

7. Keten­tu­an Pasal 12B diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 12B

(1) Direk­torat Jen­der­al Per­lin­dun­gan Kon­sumen dan Tert­ib Nia­ga melakukan pemerik­saan dan pen­gawasan secara berkala dan/ atau sewak­tuwak­tu.

(2) Pemerik­saan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) dilakukan ter­hadap:

  1. Per­syaratan impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an dan Pro­duk Turunan­nya; dan
  2. Doku­men pen­dukung impor lain.

(3) Pen­gawasan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) dilakukan ter­hadap:

  1. kebe­naran lapo­ran real­isasi impor;
  2. kesesua­ian Besi atau Baja, Baja Pad­u­an dan

Pro­duk Turunan­nya yang diim­por den­gan data yang ter­can­tum dalam Per­se­tu­juan Impor; dan kepatuhan atas per­at­u­ran perun­dan­gun­dan­gan yang terkait di bidang impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an dan Pro­duk Turunan­nya.

8. Di antara Pasal 17 dan Pasal 18 dis­isip­kan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 17A yang berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 17A

Impor­tir yang telah dike­nai sanksi pen­cabu­tan Per­se­tu­juan Impor tidak dap­at men­ga­jukan per­mo­ho­nan Per­se­tu­juan Impor kem­bali sela­ma 2 (dua) tahun dan dima­sukkan ke dalam daf­tar impor­tir dalam pen­gawasan.

10. Keten­tu­an Pasal 19 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 19

(1) Perusa­haan yang melal­cukan impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya tidak sesuai den­gan keten­tu­an dalam Per­at­u­ran Menteri ini dike­nai sanksi sesuai den­gan keten­tu­an per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.

(2) Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya yang diim­por tidak sesuai den­gan keten­tu­an dalam Per­at­u­ran Menteri ini wajib ditarik kem­bali dani peredaran dan dimus­nahkan oleh impor­tir.

(3) Biaya atas pelak­sanaan penarikan kem­bali dani peredaran dan pemus­na­han seba­gaimana dimak­sud pada ayat (2) ditang­gung oleh impor­tir

10. Keten­tu­an Pasal 20 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 20

(1) Direk­torat Jen­der­al Per­lin­dun­gan Kon­sumen dan Tert­ib Nia­ga melakukan pemerik­saan dan pen­gawasan secara berkala dan/atau sewak­tu-wak­tu.

(2) Pemerik­saan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) dilakukan ter­hadap:

  1. Per­syaratan Impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya; dan
  2. Doku­men pen­dukung Impor lain.

(3) Pen­gawasan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) dilakukan ter­hadap:

  1. Kebe­naran lapo­ran real­isasi Impor;
  2. Kesesua­ian Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan

Pro­duk Turunan­nya yang diim­por den­gan data yang ter­can­tum dalam Per­se­tu­juan Impor; dan

  1. Kepatuhan atas per­at­u­ran perun­dang-undan­gan yang terkait di bidang impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya.

11. Keten­tu­an Pasal 23 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 23

Keten­tu­an Ver­i­fikasi atau penelusuran tek­nis seba­gaimana dimak­sud dalam Pasal 10 ayat (1) tidak berlaku ter­hadap impor Besi atau Baja, Baja Pad­u­an, dan Pro­duk Turunan­nya:

  1. Yang ter­ma­suk dalam Pos Tarif/HS: 7213.91.90 den­gan kan­dun­gan kar­bon © lebih dan 0,6%; 7213.99.90 den­gan kan­dun­gan kar­bon © lebih dan 0,6%;
  2. 7219.32.00;
  3. 7219.33.00;
  4. 7219.34.00;
  5. 7219.35.00;
  6. 7219.90.00;
  7. 7220.20.10;
  8. 7220.20.90;
  9. 7220.90.10;
  10. 7220.90.90;
  11. 7225.11.00;
  12. 7225.19.00;
  13. 7225.50.90 beru­pa Tin Mill Black Plate;
  14. 7226.11.10;
  15. 7226.11.90;
  16. 7226.19.10; dan
  17. 7226.19.90.

Yang dilakukan oleh:

Perusa­haan pemi­lik API‑P di bidang indus­tri oto­mo­tif dan kom­po­nen­nya, indus­tri elek­tron­i­ka dan kom­po­nen­nya, indus­tri galan­gan kapal dan kom­po­nen­nya, indus­tri mould and dies, indus­tri pesawat ter­bang dan kom­po­nen­nya, dan/atau indus­tri alat besar dan kom­po­nen­nya;

Perusa­haan pemi­lik API‑P yang telah men­da­p­atkan pene­ta­pan seba­gai Impor­tir

Jalur Pri­or­i­tas oleh Direk­torat Jen­der­al Bea dan Cukai Kementer­ian Keuan­gan;

  1. Perusa­haan pemi­lik API‑P seba­gai induk peng­gu­na (user) yang memi­li­ki Surat Keteran­gan Ver­i­fikasi Indus­tri (SKVI) melalui fasil­i­tas User Spe­cif­ic Duty Free Scheme (USDFS) atau fasil­i­tas ske­ma lain­nya yang telah dite­tap­kan oleh Menteri Keuan­gan berdasarkan per­jan­jian inter­na­sion­al (bilateral/regional/multilateral) yang meli­batkan Pemer­in­tah Repub­lik Indone­sia yang memu­at keten­tu­an men­ge­nai impor Besi atau Baja dan Baja Pad­u­an;
  2. Perusa­haan yang men­da­p­at fasil­i­tas Bea Masuk Ditang­gung Pemer­in­tah (BMDTP); dan perusa­haan Kon­trak­tor Kon­trak Ker­ja Sama Minyak dan Gas Bumi (Kon­trak­tor KKS Migas), perusa­haan Kon­trak Karya
  1. Per­tam­ban­gan, perusa­haan pelak­sana pem­ban­gu­nan dan pengem­ban­gan indus­tri pem­bangk­it tena­ga listrik untuk kepentin­gan umum, dan perusa­haan pelak­sana pem­ban­gu­nan dalam rang­ka pelayanan kepentin­gan umum kegiatan usa­ha hilir minyak dan gas bumi.

12. Keten­tu­an Pasal 24 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 24

Penge­cualian dani keten­tu­an yang diatur dalam Per­at­u­ran Menteri ini dite­tap­kan oleh Menteri.

13. Keten­tu­an Pasal 27 diubah sehing­ga berbun­yi seba­gai berikut:

Pasal 27

Dalam hal diper­lukan, petun­juk tek­nis pelak­sanaan dan Per­at­u­ran Menteri ini dite­tap­kan oleh Direk­tur Jen­der­al dan/ atau Direk­tur Jen­der­al Per­lin­dun­gan Kon­sumen dan Tert­ib Nia­ga sesuai den­gan kewe­nan­gan mas­ing-mas­ing.

Pasal II

Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku pada tang­gal 1 Feb­ru­ari 2018

Sesuai Permenhub 49 Tahun 2017 Perusahaan Wajib Lakukan Penyesuaian Izin Usaha SIUJPT

Belum lama ini Kementer­ian Per­hubun­gan RI telah mener­bitkan reg­u­lasi baru yang men­gatur ten­tang izin usa­ha jasa pen­gu­ru­san trans­portasi (JPT). Den­gan diter­bitkan­nya per­at­u­ran baru ini, maka seti­ap perusa­haan jasa pen­gu­ru­san trans­portasi diwa­jibkan melakukan penyesuaian/pembaharuan izin usa­ha SIUJPT nya mengiku­ti per­at­u­ran ini.

Bah­wa dalam men­dorong kemu­da­han iklim inves­tasi yang mem­berikan kemu­da­han kepa­da pelaku usa­ha di bidang Jasa Pen­gu­ru­san Trans­portasi, per­lu dilakukan penataankem­bali kegiatan penye­leng­garaan dan pen­gusa­haan jasa pen­gu­ru­san tran­por­tasi Pemer­in­tah per­lu mene­tap­kan Per­at­u­ran Menteri per­hubun­gan ten­tang Penye­leng­garaan dan Pen­gusa­haan Jasa Pen­gu­ru­san Trans­portasi. Itu­lah per­tim­bam­ban­gan yang ter­tuang Per­at­u­ran Menteri Per­hubun­gan No. 49 Tahun 2017 (Per­me­n­hub 49 Tahun 2017) huruf a dan b ten­tang Penye­leng­garaan dan Pen­gusa­haan Jasa Pen­gu­ru­san Trans­portasi.

Berdasarkan per­at­u­ran ini, seti­ap perusa­haan yang sudah men­jalankan usa­hanya sebelum per­at­u­ran ini ter­bit namun sudah memi­li­ki izin usa­ha, pemer­in­tah mem­berikan masa wak­tu dalam satu tahun untuk melakukan penye­sua­ian izin usa­hanya. Dalam bab XII pada pasal 25 di keten­tu­an per­al­i­han dise­butkan “Bagi perusa­haan jasa pen­gu­ru­san trans­portasi yang telah men­jalankan kegiatan usa­hanya, wajib menye­suaikan per­iz­inan­nya sesuai den­gan per­at­u­ran menteri ini dalam jang­ka wak­tu 1 (satu) tahun sejak tang­gal dite­tap­kan­nya per­at­u­ran menteri ini”.

Dalam per­at­u­ran ini tidak secara jelas menye­butkan sanksi apa yang diberikan kepa­da perusa­haan jasa pen­gu­ru­san trans­portasi yang tidak melakukan penye­sua­ian Izin usa­hanya. Tapi seba­gaimana infor­masi yang diter­i­ma oleh Legal­i­tas dari beber­a­pa klien yang men­gatakan bah­wa sesuai pen­gala­man mere­ka dalam opera­sion­al di lapan­gan SIUJPT den­gan ter­bi­tan lama sudah tidak dap­at lagi diper­gu­nakan.

Den­gan ter­bit­nya per­at­u­ran baru ini, maka Per­me­n­hub sebelum­nya diny­atakan tidak berlaku dan dicabut. Beber­a­pa per­at­u­ran menteri yang men­gatur ten­tang SIUJPT yaitu : Per­me­n­hub No. 74 Tahun 2015, Per­me­n­hub No. 78 Tahun 2015 peruba­han, Per­me­n­hub No. 146 Tahun 2015 peruba­han ked­ua, Per­me­hub No. 12 Tahun 2016 peruba­han keti­ga, Per­me­n­hub 130 Tahun 2016 peruba­han ke empat.

Di Per­me­n­hub 49 Tahun 2017 ada sejum­lah per­syaratan admin­is­trasi dan per­syaratan tek­nis yang dite­tap­kan untuk men­da­p­atkan izin usa­ha JPT yaitu :

Syarat SIUJPT bagi Perusa­haan Lokal/PMDN :

  1. Memi­li­ki Akta perusa­haan dari Notaris yang dis­ahkan Kementer­ian Hukum dan Ham den­gan tujuan kegiatan usa­ha adalah khusus men­jalankan usa­ha bidang jasa pen­gu­ru­san trans­portasi
  2. Memi­li­ki Surat Keteran­gan Domisili Perusa­haan
  3. Memi­li­ki Penang­gung Jawab
  4. Memi­li­ki modal dasar pal­ing sedik­it Rp. 1.200.000.000,- (satu mil­iard dua ratus juta rupi­ah) dan dis­e­tor pal­ing sedik­it 25% dari total modal dasar den­gan buk­ti setor yang sah
  5. Memi­li­ki kan­tor tetap/gedung atau sewa den­gan masa sewa pal­ing sedik­it 2 tahun
  6. Memi­li­ki tena­ga ahli War­ga negara indone­sia beri­jasah min­i­mum Diplo­ma 3(D3) di bidang pela­yaran atau mar­itim atau Pener­ban­gan atau trans­portasi atau IATA Diplo­ma atau FIATA Diplo­ma, Sar­jana S1 Logis­tik atau Ser­ti­fikat kom­pe­ten­si pro­fe­si di bidang For­warder atau man­a­je­men sup­ply chain, atau ser­ti­fikat ahli kepabeanan, atau kepelabuhanan (alter­natif atau kumu­latif).

dan per­syaratn tek­nis lain­nya adalah sbb :

  1. Memi­li­ki atau men­gua­sai kendaraan roda 4 (empat) yang dibuk­tikan den­gan buk­ti kepemi­likan atau buk­ti sewa yang sah.
  2. Memi­li­ki sis­tem per­ala­tan perangkat lunak dan perangkat keras ser­ta sis­tem infor­masi dan sis­tem komu­nikasi yang ter­in­te­grasi den­gan sis­tem infor­masi trans­portasi darat, udara, laut, dan perk­ere­taapi­an sesuai den­gan perkem­ban­gan teknolo­gi.

Syarat Izin SIUJPT Bagi Perusa­haan PMA atau Joint Ven­ture (Usa­ha Patun­gan)

  1. Memi­li­ki Akta perusa­haan dari Notaris yang dis­ahkan Kementer­ian Hukum dan Ham den­gan tujuan kegiatan usa­ha adalah khusus men­jalankan usa­ha bidang jasa pen­gu­ru­san trans­portasi
  2. Memi­li­ki Surat Keteran­gan Domisili Perusa­haan
  3. Memi­li­ki Penang­gung Jawab
  4. Memi­li­ki modal dasar pal­ing sedik­it U$$ 4.000.000,- (Empat Juta US Dol­lar) dan dis­e­tor pal­ing sedik­it 25% dari total modal dasar den­gan buk­ti setor yang sah dan diau­dit oleh kan­tor akun­tan pub­lik.
  5. Memi­li­ki kan­tor tetap/gedung atau sewa den­gan masa sewa pal­ing sedik­it 2 tahun
  6. Memi­li­ki tena­ga ahli War­ga negara indone­sia beri­jasah min­i­mum Diplo­ma 3(D3) di bidang pela­yaran atau mar­itim atau Pener­ban­gan atau trans­portasi atau IATA Diplo­ma atau FIATA Diplo­ma, Sar­jana S1 Logis­tik atau Ser­ti­fikat kom­pe­ten­si pro­fe­si di bidang For­warder atau man­a­je­men sup­ply chain, atau ser­ti­fikat ahli kepabeanan, atau kepelabuhanan (alter­natif atau kumu­latif).

dan per­syaratn tek­nis lain­nya adalah sbb :

  1. Memi­li­ki atau men­gua­sai kendaraan roda 4 (empat) yang dibuk­tikan den­gan buk­ti kepemi­likan atau buk­ti sewa yang sah.
  2. Memi­li­ki sis­tem per­ala­tan perangkat lunak dan perangkat keras ser­ta sis­tem infor­masi dan sis­tem komu­nikasi yang ter­in­te­grasi den­gan sis­tem infor­masi trans­portasi darat, udara, laut, dan perk­ere­taapi­an sesuai den­gan perkem­ban­gan teknolo­gi.
  3. Memi­li­ki Izin Mem­peker­jakan Tena­ga Asing (IMTA) dari Kementer­ian Tena­ga Ker­ja RI
  4. Memi­li­ki KTP (WNI) atau KITAS (WNA)

Sedan­gkan syarat untuk pem­bukaan KANTOR CABANG SIUJPT adalah sbb :

  1. Sali­nan SIUJPT kan­tor Pusat
  2. Rekomen­dasi kebu­tuhan pem­bukaan kan­tor cabang dari penye­leng­gara pelabuhan dan/atau Penye­leng­gara Ban­dar Udara atau Otori­tas Trans­portasi lain­nya.
  3. Sali­nan Surat Domisili kan­tor cabang yang sudah dile­gal­isir
  4. Surat Kepu­tu­san (SK) pen­gangkatan kan­tor cabang yang di tan­da tan­gani oleh penang­gung jawab perusa­haan
  5. Copy Iden­ti­tas KTP/KITAS Kepala Kan­tor Cabang
  6. Foto Kan­tor Cabang

Ada­pun instan­si yang diberikan kewe­nan­gan untuk mener­bitkan izin usa­ha Jasa Pen­gu­ru­san Trans­portasi (JPT) ini adalah Guber­nur di provin­si mas­ing-mas­ing untuk PT den­gan SAHAM Lokal (WNI) sedan­gkan BKPM untuk perusa­haan Penana­man Modal Asing (PMA) den­gan saham gabun­gan joint ven­ture lokal dan asing.

Guber­nur di provin­si mas­ing-mas­ing dis­esuaikan den­gan kedudukan atau domisili perusa­haan, dan BKPM untuk semua perusa­haan di wilayah repub­lik indone­sia.

Jika perusa­haan anda mem­bu­tuhkan jasa legal per­i­ji­nan untuk sekedar berkon­sul­tasi maupun mem­ban­tu menger­jakan pen­gu­ru­san doku­men perusa­haan anda, silahkan menghubun­gi kami.

Permendag 44 Tahun 2017 Wajibkan Laporan SPT 2 Tahun Terakhir

Sehubun­gan den­gan telah diter­bitkan­nya Per­me­ndag 44/M‑Dag/Per/6/2017 tang­gal 22 Juni 2017 Ten­tang Pelak­sanaan Kon­fir­masi Sta­tus Wajib Pajak (KSWP) Dalam Rang­ka Pem­ber­ian Per­iz­inan
Ter­ten­tu di Kementer­ian Perda­gan­gan, maka seti­ap perusa­haan yang ingin men­da­p­atkan pelayanan per­iz­inan dari Kementer­ian Perda­gan­gan dihim­bau untuk ter­lebih dahu­lu menye­le­saikan kewa­jiban­nya dan kepatuhan lapo­ran SPT 2 tahun ter­akhir sebelum melakukan per­mo­ho­nan per­iz­inan.

Dalam pasal 2 ayat 2 pada per­at­u­ran terse­but dise­butkan bah­wa keteran­gan sta­tus wajib pajak yang valid digu­nakan men­ja­di salah­satu per­syaratan pem­ber­ian izin ter­ten­tu di Kementer­ian Perda­gan­gan.

Izin ter­ten­tu yang dimak­sud turut ter­lam­pir dalam per­at­u­ran ini seper­ti Bidang Perda­gan­gan Dalam Negeri, Bidang Perda­gan­gan Luar Negeri, Bidang Per­lin­dun­gan Kon­sumen dan Tata Tert­ib Nia­ga, Bidang Perda­gan­gan Ber­jang­ka Komodi­ti, Izin Usa­ha. Dan untuk meli­hat lam­pi­ran secara lengkap, silahkan down­load link per­at­u­ran diatas.