Yandex Metrica Blog

Kontak :

0813-1551-3353

E-mail :

admin@legalitas.co.id

Keputusan Kadis PTSP DKI JAKARTA Penggunaan KBLI Pada Perizinan Perdagangan

Keputusan Kadis PTSP DKI JAKARTA Penggunaan KBLI Pada Perizinan Perdagangan

Legalitas.co.id — Dinas penana­man modal dan pelayanan ter­padu satu pin­tu (DPMPTSP) DKI Jakar­ta mener­bitkan per­at­u­ran baru terkait den­gan pene­ta­pan peng­gu­naan kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia pada per­iz­inan bidang Perda­gan­gan yang akan berlaku mulai Sep­tem­ber 2020.

Pene­ta­pan peng­gu­naan KBLI terse­but diatur melalui Kepu­tu­san Kepala Dinas DPMPTSP No. 105 Tahun 2020 Ten­tang Peruba­han Atas Kepu­tu­san Kepala Dinas Penana­man Modal Dan Pelayanan Ter­padu Satu Pin­tu Provin­si Daer­ah Khusus Ibuko­ta Jakar­ta Nomor 20 Tahun 2020 Ten­tang Peng­gu­naan Kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia Pada Per­iz­inan Bidang Perda­gan­gan.

Dalam pasal 1 dise­butkan bah­wa Keten­tu­an dalam Lam­pi­ran Kepu­tu­san Kepala Dinas Nomor 20 Tahun 2020 ten­tang Peng­gu­naan Kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia pada Per­iz­inan Bidang Perda­gan­gan diubah, sehing­ga men­ja­di seba­gaimana ter­can­tum dalam Lam­pi­ran yang meru­pakan bagian tidak ter­pisahkan dan Kepu­tu­san Kepala Dinas ini.

Lam­pi­ran KBLI dap­at dil­i­hat pada link berikut.

Syarat Izin Penyelenggara Waralaba Sesuai Permendag 71/2019

Dasar Hukum :

  • Per­at­u­ran Menteri Perda­gan­gan Repub­lik Indone­sia Nomor 71 Tahun 2019 Ten­tang Penye­leng­garaan War­al­a­ba.

War­al­a­ba adalah hak khusus yang dim­i­li­ki oleh orang perse­o­ran­gan atau badan usa­ha ter­hadap sis­tem bis­nis den­gan ciri khas usa­ha dalam rang­ka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah ter­buk­ti berhasil dan dap­at diman­faatkan dan/atau digu­nakan oleh pihak lain berdasarkan Per­jan­jian Waralaba.(psl 1 angka 1)

Surat Tan­da Pendaf­taran War­al­a­ba yang selan­jut­nya dis­ingkat STPW adalah buk­ti pendaf­taran Prospek­tus Penawaran War­al­a­ba bagi Pem­beri War­al­a­ba dan Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan ser­ta buk­ti pendaf­taran Per­jan­jian War­al­a­ba bagi Pener­i­ma War­al­a­ba dan Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan yang diberikan sete­lah memenuhi per­syaratan pendaf­taran yang diten­tukan dalam Per­at­u­ran ini. (psl 1 angka 10).

Prospek­tus Penawaran War­al­a­ba adalah keteran­gan ter­tulis dari Pem­beri War­al­a­ba yang pal­ing sedik­it men­je­laskan ten­tang iden­ti­tas, legal­i­tas, sejarah kegiatan, struk­tur organ­isasi, lapo­ran keuan­gan, jum­lah tem­pat usa­ha, daf­tar Pener­i­ma War­al­a­ba, hak dan kewa­jiban Pem­beri War­al­a­ba dan Pener­i­ma War­al­a­ba, ser­ta Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) Pem­beri War­al­a­ba. (psl 1 angka 7).

Per­jan­jian War­al­a­ba adalah per­jan­jian ter­tulis antara Pem­beri War­al­a­ba den­gan Pener­i­ma War­al­a­ba atau Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan den­gan Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan. (psl 1 angka 8).

Prospek­tus Penawaran War­al­a­ba berba­hasa asing harus diter­jemahkan secara res­mi ke dalam Bahasa Indone­sia. (psl 5 ayat (3).

Per­jan­jian War­al­a­ba harus dit­ulis meng­gu­nakan Bahasa Indone­sia. (psl 6 ayat 4).

Pem­beri War­al­a­ba, Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan, Pener­i­ma War­al­a­ba, dan Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan wajib memi­li­ki STPW. (psl 10)

War­al­a­ba harus memenuhi kri­te­ria seba­gai berikut : (psl 2 ayat (2)

  1. memi­li­ki Ciri Khas Usa­ha;
  2. ter­buk­ti sudah mem­berikan keun­tun­gan;
  3. memi­li­ki stan­dar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibu­at secara ter­tulis;
  4. mudah dia­jarkan dan diap­likasikan;
  5. adanya dukun­gan yang berkesinam­bun­gan; dan
  6. Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) yang telah terdaf­tar.

Penye­leng­gara War­al­a­ba ter­diri atas : (psl 4)

  1. Pem­beri War­al­a­ba berasal dari luar negeri;
  2. Pem­beri War­al­a­ba berasal dari dalam negeri;
  3. Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba luar negeri;
  4. Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba dalam negeri;
  5. Pener­i­ma War­al­a­ba berasal dari War­al­a­ba luar negeri;
  6. Pener­i­ma War­al­a­ba berasal dari War­al­a­ba dalam negeri;
  7. Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba luar negeri; dan
  8. Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba dalam negeri.

Per­mo­ho­nan STPW dia­jukan melalui Lem­ba­ga OSS (psl 11 ayt (1).

Lem­ba­ga OSS mener­bitkan STPW untuk dan atas nama Menteri atau Bupati/Walikota. (psl 11 ayt (2).

Direk­torat Bina Usa­ha dan Pelaku Dis­tribusi melakukan ver­i­fikasi atas per­mo­ho­nan STPW ter­diri atas: (psl 11 ayat (3).

  1. STPW Pem­beri War­al­a­ba berasal dari luar negeri;
  2. STPW Pem­beri War­al­a­ba berasal dari dalam negeri;
  3. STPW Pener­i­ma War­al­a­ba dari War­al­a­ba luar negeri;
  4. STPW Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan dari War­al­a­ba luar negeri;
  5. STPW Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan dari War­al­a­ba dalam negeri;

Dinas Perdagangan/Pelayanan ter­padu pemer­in­tah Provin­si, Kabupaten/Kota di selu­ruh wilayah Indone­sia melakukan ver­i­fikasi atas per­mo­ho­nan STPW seba­gaimana yang ter­diri atas: (psl 11 ayat (4).

  1. STPW Pener­i­ma War­al­a­ba dari War­al­a­ba dalam negeri:
  2. STPW Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan dari War­al­a­ba Luar Negeri; dan
  3. STPW Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan dari War­al­a­ba Dalam Negeri

STPW Pem­beri Waralaba/ War­al­a­ba Lan­ju­tandiny­atakan tidak berlaku apa­bi­la : Psl 12 (1)

  1. Pem­beri War­al­a­ba dan/atau Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan menghen­tikan kegiatan usa­hanya; dan/atau;
  2. Pendaf­taran Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) oleh Pem­beri War­al­a­ba tidak dis­e­tu­jui atau masa berlaku Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) berakhir.

STPW Pener­i­ma Waralaba/Waralaba Lan­ju­tan diny­atakan tidak berlaku apa­bi­la: Psl 12 (3)

  1. Per­jan­jian War­al­a­ba berakhir;
  2. Pem­beri War­al­a­ba dan/atau Pener­i­ma War­al­a­ba Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan, dan/ atau Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan menghen­tikan kegiatan usa­hanya; dan/atau;
  3. Pendaf­taran Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) oleh Pem­beri War­al­a­ba tidak dis­e­tu­jui atau masa berlaku Hak Kekayaan Intelek­tu­al (HKI) berakhir.

Penye­leng­gara War­al­a­ba yang diwa­jibkan meng­gu­nakan logo war­al­a­ba yaitu : Psl 14 ayat (1).

  1. Pem­beri War­al­a­ba berasal dari dalam negeri;
  2. Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba luar negeri;
  3. Pem­beri War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba dalam negeri;
  4. Pener­i­ma War­al­a­ba berasal dari War­al­a­ba luar negeri;
  5. Pener­i­ma War­al­a­ba berasal dari War­al­a­ba dalam negeri;
  6. Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba luar negeri; dan
  7. Pener­i­ma War­al­a­ba Lan­ju­tan berasal dari War­al­a­ba dalam negeri.

Syarat dan Cara Pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB)

Seir­ing den­gan berba­gai kebi­jakan yang telah dibu­at oleh pemer­in­tah Indone­sia untuk mem­per­cepat perkem­ban­gan ekono­mi, salah sat­un­ya adalah den­gan diter­bitkan­nya Per­at­u­ran Pemer­in­tah No. 24 Tahun 2018 ten­tang Pelayanan Per­iz­inan Berusa­ha Ter­in­te­grasi Secara Elek­tron­ik (PP 24/2018) yang men­ja­di dasar untuk men­gu­rus per­iz­inan melalui Online Sin­gle Sub­mis­sion (OSS).

Per­at­u­ran yang diter­bitkan pada perten­ga­han 2018 lalu ini mem­bawa angin segar untuk mem­per­bai­ki prose­dur yang ada saat ini, di mana Anda dap­at men­gu­rus per­iz­inan yang diper­lukan untuk bis­nis Anda secara online. Den­gan adanya refor­masi ini, ter­da­p­at beber­a­pa peruba­han juga ter­hadap beber­a­pa per­iz­inan, antara lain mulai diber­lakukan­nya Nomor Induk Berusa­ha (NIB) bagi seti­ap pen­gusa­ha. Lalu apa itu NIB? Di bawah ini, kami akan men­je­laskan beber­a­pa hal terkait pem­bu­atan NIB dalam per­iz­inan usa­ha.

Nomor Induk Berusa­ha atau dis­ingkat NIB  adalah doku­men yang berfungsi seba­gai peng­gan­ti Tan­da Daf­tar Perusa­haan (TPD), Angka Pen­ge­nal Impor (API) dan juga seba­gai peng­gan­ti Nomor Induk Kepabeanan (NIK) yang digu­nakan untuk Hak Akses Kepabeanan kegiatan ekspor dan impor. Seti­ap pelaku usa­ha baik per­oran­gan maupun badan usa­ha yang berke­dudukan dan melakukan kegiatan usa­ha di Indone­sia wajib memi­li­ki Nomor Induk Berusa­ha wajib (NIB).

Apa saja ben­tuk usa­ha yang bisa mendaf­tarkan NIB? Menu­rut Pasal 6 ayat (3) PP 24/2018,  di bawah ini adalah daf­tar pelaku usa­ha non-perse­o­ran­gan yang dap­at melakukan pendaf­taran per­iz­inan untuk mem­per­oleh NIB :

  • Perseroan Ter­batas
  • Perusa­haan Umum
  • Perusa­haan Umum Daer­ah
  • Badan Hukum Lain­nya yang dim­i­li­ki oleh Negara
  • Badan Layanan Umum
  • Lem­ba­ga Penyiaran
  • Badan Usa­ha yang didirikan oleh Yayasan
  • Kop­erasi
  • Perseku­tu­an Koman­diter (Com­man­di­taire Ven­nootschap) atau biasa dise­but CV
  • Perseku­tu­an Fir­ma (Venootschap Onder Fir­ma)
  • Perseku­tu­an Per­da­ta

Lalu apa saja syarat yang diper­lukan untuk men­da­p­atkan Nomor Induk Berusa­ha (NIB). Berikut ini kami uraikan syarat yang wajib dipenuhi untuk mendaf­tar Nomor Iden­ti­tas Kepabeanan (NIB) melalui sis­tem OSS.

Syarat Pen­gu­ru­san NIB den­gan OSS untuk Badan Usa­ha :

  • Akte pendiri­an PT/CV.
  • SK Penge­sa­han Badan Hukum dari Kemenkumham.
  • Npwp Badan Hukum
  • KTP dan NPWP (Valid) Penang­gung Jawab Perusa­haan

Syarat Pen­gu­ru­san NIB den­gan OSS untuk Per­oran­gan :

KTP dan NPWP Prib­a­di (Valid) Pemi­lik atau Penang­gung jawab usa­ha.

Sederhanakan Perizinan Koperasi, Pemerintah Terbitkan Permenkop 9 Tahun 2018

Dalam rang­ka penye­leng­garaan dan pem­bi­naan kegiatan usa­ha kop­erasi ser­ta melin­dun­gi dan menyeder­hanakan per­iz­inan pendiri­an badan hukum kop­erasi, Pemer­in­tah melalui Kementer­ian Kop­erasi dan UMKM Repub­lik Indone­sia mener­bitkan Per­at­u­ran Baru yaitu PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2018 ten­tang PENYELENGGARAAN DAN PEMBINAAN PERKOPERASIAN.

Per­at­u­ran yang res­mi di undan­gkan pada 02 Juli 2018 ini ter­diri dari 168 Pasal.

Diku­tip dari per­at­u­ran terse­but, dalam Bab I Pasal 1 keten­tu­an umum dije­laskan seba­gai berikut :

Dalam Per­at­u­ran Menteri ini yang dimak­sud den­gan:
1. Kop­erasi adalah badan usa­ha yang berang­gotakan orang-seo­rang atau badan hukum Kop­erasi den­gan melandaskan kegiatan­nya berdasarkan prin­sip Kop­erasi sekali­gus seba­gai ger­akan ekono­mi raky­at yang berdasar atas asas kekelu­ar­gaan.

2. Perk­op­erasian adalah segala sesu­atu yang menyangkut kehidu­pan Kop­erasi.
3. Kop­erasi Primer adalah Kop­erasi yang didirikan oleh dan berang­gotakan orang perse­o­ran­gan.
4. Kop­erasi Sekun­der adalah Kop­erasi yang didirikan oleh dan berang­gotakan badan hukum Kop­erasi.
5. Rap­at Anggota adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang memegang kekuasaan tert­ing­gi dalam Kop­erasi.
6. Pen­gawas adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang bertu­gas men­gawasi dan mem­berikan nasi­hat kepa­da Pen­gu­rus.
7. Dewan Pen­gawas Syari­ah adalah Dewan yang dip­il­ih melalui kepu­tu­san Rap­at Anggota yang men­jalankan tugas dan fungsi seba­gai pen­gawas syari­ah.

8. Pen­gu­rus adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang bertang­gung jawab penuh atas kepen­gu­ru­san Kop­erasi untuk kepentin­gan dan tujuan Kop­erasi, ser­ta mewak­ili Kop­erasi baik di dalam maupun di luar pen­gadi­lan sesuai den­gan keten­tu­an Anggaran Dasar.
9. Sim­panan Pokok adalah sejum­lah uang yang sama banyaknya yang wajib diba­yarkan kepa­da Kop­erasi pada saat masuk men­ja­di anggota, yang tidak dap­at diam­bil kem­bali sela­ma yang bersangku­tan masih men­ja­di anggota.
10. Sim­panan Wajib adalah jum­lah sim­panan ter­ten­tu yang tidak harus sama yang wajib diba­yar anggota kepa­da kop­erasi dalam wak­tu dan kesem­patan ter­ten­tu, yang tidak dap­at diam­bil kem­bali sela­ma yang bersangku­tan masih men­ja­di anggota.
11. Dana Cadan­gan adalah sejum­lah uang yang diper­oleh dari peny­isi­han hasil usa­ha sete­lah pajak yang dimak­sud­kan untuk memupuk modal sendiri dan menut­up keru­gian kop­erasi bila diper­lukan.
12. Hibah adalah pem­ber­ian den­gan sukarela den­gan men­gal­ihkan hak atas uang dan/atau barang kepa­da kop­erasi.
13. Sisa Hasil Usa­ha yang selan­jut­nya dis­ingkat SHU adalah pen­da­p­atan kop­erasi yang diper­oleh dalam satu tahun buku diku­ran­gi den­gan biaya, penyusu­tan dan kewa­jiban lain­nya ter­ma­suk pajak dalam tahun buku yang bersangku­tan.
14. Pin­ja­man adalah penye­di­aan uang atau tag­i­han yang dap­at diper­samakan den­gan itu, berdasarkan per­se­tu­juan atau kesep­a­katan pin­jam mem­in­jam antara kop­erasi den­gan pihak lain yang mewa­jibkan pihak pem­in­jam untuk melu­nasi hutangnya sete­lah jang­ka wak­tu ter­ten­tu dis­er­tai den­gan pem­ba­yaran sejum­lah imbal­an;
15. Stan­dar Akun­tan­si Keuan­gan adalah pedo­man sis­tem pen­catatan dan pengikhti­s­aran transak­si keuan­gan dan penaf­sir­an aki­bat suatu transak­si ter­hadap suatu kesat­u­an ekono­mi yang baku.
16. Modal Peny­er­taan adalah sejum­lah uang atau barang modal yang dap­at dini­lai den­gan uang yang ditanamkan oleh pemodal untuk menam­bah dan mem­perku­at struk­tur per­modalan kop­erasi dalam meningkatkan kegiatan usa­hanya.
17. Oblig­asi Kop­erasi adalah instru­men utang dalam ben­tuk surat berhar­ga yang digu­nakan untuk keper­lu­an pem­bi­ayaan Inves­tasi dalam rang­ka pengem­ban­gan dan/atau restruk­tur­isasi usa­ha, yang diter­bitkan oleh Kop­erasi.
18. Surat Utang Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat SUK adalah surat utang yang dap­at diman­faatkan untuk mem­bi­ayai suatu usa­ha yang dilak­sanakan oleh Kop­erasi atau bek­er­ja sama den­gan pihak lain yang memi­li­ki poten­si mem­berikan hasil yang berke­lan­ju­tan.
19. Prospek­tus adalah keteran­gan ter­tulis dan ter­per­in­ci men­ge­nai kegiatan baru perusa­haan atau organ­isasi yang dise­bar­lu­askan kepa­da umum.
20. Akta Pendiri­an Kop­erasi adalah akta per­jan­jian yang dibu­at oleh para pendiri dalam rang­ka pem­ben­tukan kop­erasi dan memu­at anggaran dasar kop­erasi.
21. Anggaran Dasar Kop­erasi adalah atu­ran dasar ter­tulis yang memu­at keten­tu­an seba­gaimana dimak­sud Pasal 8 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 ten­tang Perk­op­erasian.
22. Akta Peruba­han Anggaran Dasar Kop­erasi adalah akta per­jan­jian yang dibu­at oleh anggota kop­erasi dalam rang­ka peruba­han anggaran dasar suatu kop­erasi yang berisi perny­ataan dari para anggota kop­erasi atau kuasanya yang ditun­juk dan diberi kuasa dalam suatu rap­at anggota peruba­han anggaran dasar untuk menan­datan­gani peruba­han anggaran dasar.
23. Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat NPAK adalah Notaris yang telah dite­tap­kan atau terdaf­tar seba­gai Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi oleh Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah.

24. Pendiri adalah orang-orang atau beber­a­pa kop­erasi yang memenuhi per­syaratan keang­gotaan dan meny­atakan diri men­ja­di anggota ser­ta hadir dalam rap­at pendiri­an kop­erasi.
25. Kuasa Pendiri adalah beber­a­pa orang, diantara para pendiri yang diberi kuasa oleh para pendiri untuk menan­datan­gani akta pendiri­an dan men­gu­rus per­mo­ho­nan penge­sa­han akta pendiri­an kop­erasi.
26. Sis­tem Admin­is­trasi Badan Hukum Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat SISMINBHKOP adalah perangkat pelayanan jasa teknolo­gi infor­masi Penge­sa­han Akta Pendiri­an Kop­erasi dan Peruba­han Anggaran Dasar secara elek­tron­ik yang dis­e­leng­garakan oleh Menteri.
27. Pemo­hon adalah Pendiri atau Pen­gu­rus Kop­erasi yang secara bersama-sama telah mem­berikan kuasa kepa­da kuasa pendiri atau Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi untuk men­ga­jukan per­mo­ho­nan penge­sa­han Akta Pendiri­an dan Penge­sa­han Peruba­han Anggaran Dasar Kop­erasi melalui SISMINBHKOP.
28. For­mat Isian adalah ben­tuk for­mulir pengisian data yang dilakukan secara elek­tron­ik yang berisi data per­mo­ho­nan penge­sa­han akta pendiri­an, peruba­han anggaran dasar dan pem­bubaran kop­erasi, ter­ma­suk izin usa­ha sim­pan pin­jam, izin pem­bukaan kan­tor cabang, kan­tor cabang pem­ban­tu, dan kan­tor kas untuk kop­erasi sim­pan pin­jam dan unit sim­pan pin­jam kop­erasi.
29. Beri­ta Acara rap­at adalah catatan hasil rap­at yang pal­ing sedik­it memu­at infor­masi ten­tang hari/tanggal, tem­pat, kuo­rum kehadi­ran, agen­da rap­at, pem­ba­hasan ter­hadap agen­da rap­at, dan kepu­tu­san rap­at yang ditan­datan­gani oleh pimp­inan rap­at, sekre­taris rap­at dan salah seo­rang peser­ta rap­at.
30. Peng­gabun­gan adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh dua atau lebih badan hukum kop­erasi untuk men­ja­di satu badan hukum kop­erasi berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.

31. Pem­ba­gian adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh badan hukum kop­erasi untuk memisahkan satu atau beber­a­pa unit usa­ha men­ja­di badan hukum kop­erasi baru berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.
32. Pele­bu­ran adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh dua kop­erasi atau lebih badan hukum kop­erasi untuk men­ja­di satu badan hukum kop­erasi berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.
33. Pem­bubaran adalah pros­es hapus­nya badan hukum kop­erasi yang dap­at dipu­tuskan oleh rap­at anggota kop­erasi atau putu­san pemer­in­tah.
34. Modal Dis­e­tor adalah modal yang dis­e­torkan oleh para pendiri pada saat pendiri­an kop­erasi.
35. Kop­erasi Sim­pan Pin­jam adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha sim­pan pin­jam seba­gai satu-sat­un­ya usa­ha.
36. Kop­erasi Pro­dusen adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan di bidang pen­gadaan sarana pro­duk­si dan pemasaran pro­duk­si yang dihasilkan Anggota kepa­da Anggota dan masyarakat.
37. Kop­erasi Kon­sumen adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan di bidang penye­di­aan barang kebu­tuhan Anggota dan masyarakat.
38. Kop­erasi Jasa adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan jasa yang diper­lukan oleh Anggota dan masyarakat.
39. Unit Usa­ha Otonom yang selan­jut­nya dis­ingkat UUO adalah bagian yang tidak ter­pisahkan dari kop­erasi, yang dikelo­la secara otonom, yang mem­pun­yai pen­gelo­la, admin­si­trasi dan ner­a­ca keuan­gan, admin­is­trasi usa­ha, anggaran rumah tang­ga tersendiri
40. Tem­pat Pelayanan Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat TPK adalah suatu unit layanan, yang secara fisik keber­adaan­nya dekat den­gan domisili anggota, berfungsi untuk men­gop­ti­malkan pelayanan usa­ha kop­erasi kepa­da anggota dan masyarakat.

41. Ger­akan Kop­erasi adalah keselu­ruhan organ­isasi kop­erasi dan kegiatan perk­op­erasian yang bersi­fat ter­padu menu­ju ter­ca­painya cita-cita dan tujuan kop­erasi.
42. Organ­isasi Perangkat Daer­ah Provinsi/Kabupaten/Kota yang selan­jut­nya dise­but Dinas, adalah perangkat daer­ah yang melak­sanakan uru­san pemer­in­ta­han Provinsi/Kabupaten/Kota di bidang kop­erasi.
43. Hari adalah hari kalen­der.
44. Menteri adalah Menteri yang menye­leng­garakan uru­san pemer­in­ta­han di bidang Kop­erasi.
45. Peja­bat yang Berwe­nang adalah peja­bat yang dite­tap­kan oleh Menteri, untuk dan atas nama Menteri untuk menge­sahkan akta pendiri­an, peruba­han anggaran dasar, dan pem­bubaran kop­erasi.

Dalam BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 166 dise­butkan seba­gai berikut :

Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku:
a. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Nomor 10/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Kelem­ba­gaan Kop­erasi;
b. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Repub­lik Indone­sia Nomor 22/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Kop­erasi Skala Besar;
c. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Nomor 20/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Pen­er­a­pan Akunt­abil­i­tas Kop­erasi;
d. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Repub­lik Indone­sia Nomor 25/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Revi­tal­isasi Kop­erasi;
e. Per­at­u­ran Menteri Nomor 23/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Peni­la­ian Indeks Pem­ban­gu­nan Kop­erasi;
diny­atakan dicabut dan tidak berlaku.

Pasal 167
Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku, semua Per­at­u­ran Menteri yang men­gatur atau berkai­tan den­gan pem­bi­naan perk­op­erasian diny­atakan tetap berlaku, sep­a­n­jang tidak berten­tan­gan atau belum digan­ti den­gan yang baru berdasarkan Per­at­u­ran Menteri ini.

PP 24 Tahun 2018, Pelaku Usaha Wajib Daftar Nomor Induk Berusaha (NIB)

Den­gan ter­bit­nya Per­at­u­ran Pemer­in­tah Repub­lik Indone­sia Nomor 24 Tahun 2018 ten­tang Pelayanan Per­iz­inan Berusa­ha Ter­in­te­grasi Secara Elek­tron­ik atauOn­line Sin­gle Sub­mis­sion yang selan­jut­nya dis­ingkat OSS maka seti­ap pelaku usa­ha baik per­oran­gan maupun non per­oran­gan yang melakukan usa­ha wajib melakukan pendaf­taran atau memi­li­ki Nomor Induk Berusa­ha (NIB) kepa­da Lem­ba­ga OSS selaku pener­bit Per­iz­inan Berusa­ha.

Nomor Induk Berusa­ha yang selan­jut­nya dis­ingkat NIB adalah iden­ti­tas Pelaku Usa­ha yang diter­bitkan oleh Lem­ba­ga OSS sete­lah Pelaku Usa­ha melakukan Pendaf­taran.

Untuk men­da­p­atkan Nomor Iden­ti­tas Berusa­ha (NIB) terse­but pelaku usa­ha cukup mendaf­tar atau men­ga­jukan per­mo­ho­nan secara online den­gan men­gak­ses web­site di oss.go.id, dan pada saat melakukan pendaf­tar pemo­hon wajib mem­per­si­pakan sejum­lah doku­men yaitu Akta Notaris perusa­haan yang sudah men­da­p­atkan penge­sa­han dari Kementer­ian Hukum da HAM RI (untuk jenis Badan Hukum PT), NPWP Perusa­haan, KTP dan NPWP Prib­a­di penang­gung jawab perusa­haan.

Selain menyi­ap­kan doku­men terse­but, hal yang pal­ing pent­ing dipastikan adalah NPWP Badan Usa­ha dan NPWP Prib­a­di penang­gung jawab perusa­haan harus dalam kon­disi aktif atau tidak sedang diblokir oleh kan­tor pajak KPP pener­bit NPWP.

Jika per­syaratan terse­but sudah ter­penuhi, maka per­mo­ho­nan NIB pada umum­nya pasti akan dis­e­tu­jui dan diter­bitkan oleh OSS. Dan den­gan adanya NIB ini, para pelaku usa­ha sudah tidak per­lu men­ga­jukan izin usa­ha seper­ti SIUP, TDP, dan izin usa­ha lain­nya lagi, kare­na doku­men-doku­men izin terse­but sudah dis­atukan dalam NIB. Cukup den­gan NIB (Nomor Induk Berusa­ha) yang bisa diu­rus sela­ma 30 menit.

(1) Pemo­hon Per­iz­inan Berusa­ha ter­diri atas :

a. Pelaku Usa­ha perse­o­ran­gan; dan

b. Pelaku Usa­ha non perse­o­ran­gan.

Pelaku Usa­ha perse­o­ran­gan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) huruf a meru­pakan orang per­oran­gan pen­duduk Indone­sia yang cakap untuk bertin­dak dan melakukan per­bu­atan hukum.

(3) Pelaku Usa­ha non perse­o­ran­gan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) huruf b ter­diri atas:

  1. perseroan ter­batas;
  2. perusa­haan umum;
  3. perusa­haan umum daer­ah;
  4. badan hukum lain­nya yang dim­i­li­ki oleh negara;
  5. badan layanan umum;
  6. lem­ba­ga penyiaran;
  7. badan usa­ha yang didirikan oleh yayasan;
  8. kop­erasi;
  9. perseku­tu­an koman­diter (com­man­di­taire ven­nootschap);
  10. perseku­tu­an fir­ma (venootschap onder fir­ma); dan
  11. perseku­tu­an per­da­ta.

Pada lam­pi­ran PP No. 24 Tahun 2018 ini, sudah ada 39 jenis per­iz­inan usa­ha baik Izin Usa­ha PMA maupun PMDN yang kewe­nan­gan pener­bi­tan­nya telah dilimpahkan kepa­da lem­ba­ga OSS.

Demikian­lah infor­masi seder­hana men­ge­nai pem­bu­atan NIB (Nomor Induk Berusa­ha), semoga infor­masi yang kami sajikan ini bisa mem­ban­tu Anda.


Anda mem­bu­tuhkan jasa pen­gu­ru­san Nomor Induk Berusa­ha (NIB)? Kami adalah ahlinya.

Kami meru­pakan perusa­haan ter­per­caya di Jakar­ta yang sudah lama menye­di­akan jasa pen­gu­ru­san per­iz­inan usa­ha, dim­u­lai dari pen­gu­ru­san pendiri­an perusa­haan, seper­ti Perseroan Ter­batas (PT, PMA), CV, Fir­ma, Yayasan maupun Kop­erasi, (ter­ma­suk juga pen­gu­ru­san Nomor Induk Berusaha/NIB) dll..

Kami siap mem­ban­tu Anda dalam men­da­p­atkan Nomor Induk Berusa­ha (NIB) dan per­iz­inan lain­nya, biarkan kami yang bek­er­ja untuk Anda.