Yandex Metrica Blog | Legalitas.Co.id

Kontak :

0813-1551-3353

E-mail :

admin@legalitas.co.id

Kategori: Blog

PP 14 Tahun 2021 Turunan UU Cipta Kerja Bidang Jasa Konstruksi, Sejumlah Pasal di PP 22 Tahun 2020 diubah dan ditambah

Per­at­u­ran Pemer­in­tah seba­gai turunan pas­ca dis­ahkan­nya Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 ten­tang Cip­ta Ker­ja seba­gai UU telah diter­bitkan. Seper­ti dikete­hui kegiatan usa­ha Jasa kon­struk­si men­ja­di salah­satu clus­ter yang diatur dalam Omnibus Law Cip­ta Ker­ja No. 11 Tahun 2020.

Sebelum UU Cip­tak­er ini ter­bit kegiatan jasa kon­struk­si tun­duk pada Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 ten­tang Jasa Kon­struk­si dan Per­at­u­ran Pemer­in­tah No. 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si.

Den­gan berlakun­ya UU Cip­ta Ker­ja, maka seba­gai Per­at­u­ran Pelak­sana telah diter­bitkan Per­at­u­ran Pemer­in­tah No. 14 Tahun 2021 Ten­tang Peruba­han Atas Per­at­u­ran Pemer­in­tah Nomor 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si yang mulai berlaku sejak dite­tap­kan pada tang­gal 2 Feb­ru­ari 2021, dan dicatat dalam Lem­baran Negara No. 24

Pada saat PP No. 14 Tahun 2021 berlaku, semua keten­tu­an dalam Per­at­u­ran Pemer­in­tah Nomor 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si diny­atakan tetap berlaku sep­a­n­jang tidak berten­tan­gan den­gan PP No.14 Tahun 2021.

Lalu pasal apa saja yang diubah dalam keten­tu­an PP No. 14 Tahun 2021 ini, berikut daf­tarnya :

  1. Keten­tu­an Pasal 1 diubah
  2. Keten­tu­an Pasal 6 diubah
  3. Diantara Pasal 6 dan Pasal 7 dis­isip­kan 24 Pasal yakni Pasal 6A sam­pai den­gan Pasal 6X
  4. Keten­tu­an Pasal 8 diubah
  5. Keten­tu­an Pasal 9 diubah
  6. Keten­tu­an Pasal 11 diubah
  7. Keten­tu­an Pasal 12 diubah
  8. Keten­tu­an Pasal 20 diubah
  9. Keten­tu­an Pasal 22 diubah
  10. Diantara Pasal 26 dan Pasal 27 dis­isi­pakn 4 Pasal yakni Pasal 26 A sam­pai den­gan Pasal 26 D
  11. Keten­tu­an Pasal 28 diubah
  12. Diantara pasal 28 dan 29 dis­isip­kan 11 pasal yakni pasal 28 A sam­pai den­gan pasal 28 K
  13. Diantara pasal 29 dan pasal 30 dis­isip­kan 10 pasal yakni pasal 29A sam­pai den­gan pasal 29J
  14. Keten­tu­an pasal 30 diubah
  15. Diantara pasal 30 dan 31 dis­isip­kan 13 pasal yakni pasal 30A sam­pai den­gan pasal 30M
  16. Keten­tu­an pasal 41 diubah
  17. Diantara pasal 41 dan 42 dis­isip­kan 18 pasal yakni pasal 41A sam­pai den­gan pasal 41R
  18. Diantara pasal 42 dan 43 dita­m­bahkan 11 pasal yakni pasal 42A sam­pai den­gan pasal 42K
  19. Keten­tu­an pasal 43 diubah
  20. Diantara pasal 51 dan pasal 52 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 51A
  21. Keten­tu­an pasal 59 diubah
  22. Keten­tu­an pasal 61 diubah
  23. Keten­tu­an pasal 64 diubah
  24. Diantara pasal 70 dan 71 dita­m­bahkan 8 pasal yakni pasal 70A sam­pai den­gan pasal 70H
  25. Keten­tu­an ayat (2) pasal 72 diubah
  26. Diantara pasal 74 dan 75 dita­m­bahkan 1 pasal yakni pasal 74A
  27. Keten­tu­an pasal 77 diubah
  28. Keten­tu­an pasal 84 diubah
  29. Diantara pasal 84 dan pasal 85 dita­m­bahkan 37 pasal yakni pasal 84A sam­pai den­gan pasal 84 AK
  30. Keten­tu­an pasal 85 diubah
  31. Diantara pasal 85 dan pasal 86 dis­isip­kan 18 pasal yakni pasal 85A sam­pai den­gan pasal 85R
  32. Keten­tu­an ayat (2) pasal 97 diubah
  33. Diantara pasal 123 dan pasal 124 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 123A
  34. Diantara pasal 150 dan pasal 151 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 150A
  35. Keten­tu­an pasal 152 diubah
  36. Keten­tu­an pasal 153 diubah
  37. Keten­tu­an pasal 154 diubah
  38. Diantara keten­tu­an pasal 154 dan pasal 155 dis­isip­kan 2 pasal 154 A sam­pai den­gan pasal 154 B
  39. Diantara keten­tu­an pasal 157 dan pasal 158 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 157A
  40. Keten­tu­an pasal 161 diubah
  41. Keten­tu­an pasal 163 diubah
  42. Keten­tu­an pasal 164 diubah
  43. Diantara pasal 168 dan 169 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 168A
  44. Diantara pasal 176 dan pasal 177 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 176A
  45. Diantara pasal 178 dan pasal 179 dis­isip­kan 1 pasal yakni pasal 178A

Keten­tu­an Pasal II PP No. 14 Tahun 2021 berlaku pada saat diun­dan­gkan yakni pada tang­gal 2 Feb­ru­ari 2021.

Down­load

  1. PP No. 14 Tahun 2021 Ten­tang Peruba­han Atas Per­at­u­ran Pemer­in­tah Nomor 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si.
  2. Lam­pi­ran Per­at­u­ran Pemer­in­tah No. 14 Tahun 2021 Ten­tang Peruba­han Atas Per­at­u­ran Pemer­in­tah Nomor 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017
  3. Per­at­u­ran Pemer­in­tah Nomor 22 Tahun 2020 Ten­tang Per­at­u­ran Pelak­sanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si.
  4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Ten­tang Jasa Kon­struk­si.

Daftar UU Yang Diubah dan Dicabut Pasca Terbitnya UU Cipta Kerja

Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 Ten­tang Cip­ta Ker­ja telah dis­ahkan oleh pres­i­den Joko Wido­do pada tangg­gal 2 Novem­ber 2020 dan telah terdaf­tar dalam Lem­baran Negara Repub­lik Indone­sia Tahun 2020 Nomor 245. UU sapu jagat ini telah berlaku sejak di undan­gkan seba­gaimana dise­butkan dalam keten­tu­an pasal 186.

Den­gan berlakun­ya UU ini, maka sekali­gus akan men­gubah dan men­cabut sejum­lah UU lain yang berkai­tan lang­sung den­gan keten­tu­an dalam UU Cip­ta Ker­ja ini.

Berikut sta­tus UU lain yang berubah dan dicabut :

Dicabut :

  • UU No. 3 Tahun 1982 ten­tang Wajib Daf­tar Perusa­haan
  • Staats­blad Tahun 1926 Nomor 226 junc­to Staats­blad Tahun 1940 Nomor 450 ten­tang Undang-Undang Gang­guan (Hin­deror­don­nantie)

Men­gubah :

  1. UU No. 3 Tahun 2020 ten­tang Peruba­han atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 ten­tang Per­tam­ban­gan Min­er­al dan Batubara
  2. UU No. 8 Tahun 2019 ten­tang Penye­leng­garaan Ibadah Haji dan Umrah
  3. UU No. 22 Tahun 2019 ten­tang Sis­tem Budi Daya Per­tan­ian Berke­lan­ju­tan
  4. UU No. 17 Tahun 2019 ten­tang Sum­ber Daya Air
  5. UU No. 11 Tahun 2019 ten­tang Sis­tem Nasion­al Ilmu Penge­tahuan dan Teknolo­gi
  6. UU No. 6 Tahun 2017 ten­tang Arsitek
  7. UU No. 2 Tahun 2017 ten­tang Jasa Kon­struk­si
  8. UU No. 18 Tahun 2017 ten­tang Pelin­dun­gan Peker­ja Migran Indone­sia
  9. UU No. 7 Tahun 2016 ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pem­ber­dayaan Nelayan, Pem­bu­di Daya Ikan, dan Petam­bak Garam
  10. UU No. 20 Tahun 2016 ten­tang Merek dan Indikasi Geografis
  11. UU No. 13 Tahun 2016 ten­tang Pat­en
  12. UU No. 7 Tahun 2014 ten­tang Perda­gan­gan
  13. UU No. 6 Tahun 2014 ten­tang Desa
  14. UU No. 41 Tahun 2014 ten­tang Peruba­han atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Ten­tang Peter­nakan dan Kese­hatan Hewan
  15. UU No. 39 Tahun 2014 ten­tang Perke­bunan
  16. UU No. 33 Tahun 2014 ten­tang Jam­i­nan Pro­duk Halal
  17. UU No. 32 Tahun 2014 ten­tang Kelau­tan
  18. UU No. 30 Tahun 2014 ten­tang Admin­is­trasi Pemer­in­ta­han
  19. UU No. 3 Tahun 2014 ten­tang Perindus­tri­an
  20. UU No. 23 Tahun 2014 ten­tang Pemer­in­ta­han Daer­ah
  21. UU No. 21 Tahun 2014 ten­tang Panas Bumi
  22. UU No. 1 Tahun 2014 ten­tang Peruba­han atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Ten­tang Pen­gelo­laan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  23. UU No. 19 Tahun 2013 ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pem­ber­dayaan Petani
  24. UU No. 18 Tahun 2013 ten­tang Pence­ga­han dan Pem­ber­an­tasan Perusakan Hutan
  25. UU No. 2 Tahun 2012 ten­tang Pen­gadaan Tanah Bagi Pem­ban­gu­nan Untuk Kepentin­gan Umum
  26. UU No. 18 Tahun 2012 ten­tang Pan­gan
  27. UU No. 16 Tahun 2012 ten­tang Indus­tri Per­ta­hanan
  28. UU No. 6 Tahun 2011 ten­tang Keimi­grasian
  29. UU No. 4 Tahun 2011 ten­tang Infor­masi Geospasial
  30. UU No. 24 Tahun 2011 ten­tang Badan Penye­leng­gara Jam­i­nan Sosial
  31. UU No. 20 Tahun 2011 ten­tang Rumah Susun
  32. UU No. 1 Tahun 2011 ten­tang Peruma­han dan Kawasan Per­muki­man
  33. UU No. 13 Tahun 2010 ten­tang Hor­tikul­tura
  34. UU No. 45 Tahun 2009 ten­tang Peruba­han Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Ten­tang Perikanan
  35. UU No. 44 Tahun 2009 ten­tang Rumah Sak­it
  36. UU No. 41 Tahun 2009 ten­tang Per­lin­dun­gan Lahan Per­tan­ian Pan­gan Berke­lan­ju­tan
  37. UU No. 4 Tahun 2009 ten­tang Per­tam­ban­gan Min­er­al dan Batubara
  38. UU No. 39 Tahun 2009 ten­tang Kawasan Ekono­mi Khusus
  39. UU No. 38 Tahun 2009 ten­tang POS
  40. UU No. 36 Tahun 2009 ten­tang Kese­hatan
  41. UU No. 35 Tahun 2009 ten­tang Narkoti­ka
  42. UU No. 33 Tahun 2009 ten­tang Per­fil­man
  43. UU No. 32 Tahun 2009 ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup
  44. UU No. 30 Tahun 2009 ten­tang Kete­na­gal­istrikan
  45. UU No. 28 Tahun 2009 ten­tang Pajak Daer­ah dan Ret­ribusi Daer­ah
  46. UU No. 22 Tahun 2009 ten­tang Lalu Lin­tas Dan Angku­tan Jalan
  47. UU No. 18 Tahun 2009 ten­tang Peter­nakan dan Kese­hatan Hewan
  48. UU No. 10 Tahun 2009 ten­tang Kepari­wisa­taan
  49. UU No. 1 Tahun 2009 ten­tang Pener­ban­gan
  50. UU No. 21 Tahun 2008 ten­tang Per­bankan Syari­ah
  51. UU No. 20 Tahun 2008 ten­tang Usa­ha Mikro, Kecil, dan Menen­gah
  52. UU No. 17 Tahun 2008 ten­tang Pela­yaran
  53. UU No. 40 Tahun 2007 ten­tang Perseroan Ter­batas
  54. UU No. 27 Tahun 2007 ten­tang Pen­gelo­laan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  55. UU No. 26 Tahun 2007 ten­tang Penataan Ruang
  56. UU No. 25 Tahun 2007 ten­tang Penana­man Modal
  57. UU No. 23 Tahun 2007 ten­tang Perk­ere­taapi­an
  58. UU No. 40 Tahun 2004 ten­tang Sis­tem Jam­i­nan Sosial Nasion­al
  59. UU No. 38 Tahun 2004 ten­tang Jalan
  60. UU No. 31 Tahun 2004 ten­tang Perikanan
  61. UU No. 19 Tahun 2004 ten­tang Pene­ta­pan Per­at­u­ran Pemer­in­tah Peng­gan­ti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 ten­tang Peruba­han atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 ten­tang Kehutanan Men­ja­di Undang-Undang
  62. UU No. 19 Tahun 2003 ten­tang Badan Usa­ha Milik Negara
  63. UU No. 13 Tahun 2003 ten­tang Kete­na­gak­er­jaan
  64. UU No. 32 Tahun 2002 ten­tang Penyiaran
  65. UU No. 28 Tahun 2002 ten­tang Ban­gu­nan Gedung
  66. UU No. 2 Tahun 2002 ten­tang Kepolisian Negara Repub­lik Indone­sia
  67. UU No. 22 Tahun 2001 ten­tang Minyak dan Gas Bumi
  68. UU No. 37 Tahun 2000 ten­tang Pene­ta­pan Per­at­u­ran Pemer­in­tah Peng­gan­ti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2000 ten­tang Kawasan Perda­gan­gan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang Men­ja­di Undang-Undang
  69. UU No. 36 Tahun 2000 ten­tang Pene­ta­pan Per­at­u­ran Pemer­in­tah Peng­gan­ti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 ten­tang Kawasan Perda­gan­gan Bebas dan Pelabuhan Bebas Men­ja­di Undang-Undang
  70. UU No. 29 Tahun 2000 ten­tang Per­lin­dun­gan Vari­etas Tana­man
  71. UU No. 5 Tahun 1999 ten­tang Larangan Prak­tek Monop­o­li dan Per­sain­gan Usa­ha Tidak Sehat
  72. UU No. 41 Tahun 1999 ten­tang Kehutanan
  73. UU No. 36 Tahun 1999 ten­tang Teleko­mu­nikasi
  74. UU No. 10 Tahun 1998 ten­tang Peruba­han atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 ten­tang Per­bankan
  75. UU No. 5 Tahun 1997 ten­tang Psikotropi­ka
  76. UU No. 10 Tahun 1997 ten­tang Kete­na­ganuk­li­ran
  77. UU No. 7 Tahun 1992 ten­tang Per­bankan
  78. UU No. 25 Tahun 1992 ten­tang Perk­op­erasian
  79. UU No. 8 Tahun 1983 ten­tang Pajak Per­tam­ba­han Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Pen­jualan atas Barang Mewah
  80. UU No. 7 Tahun 1983 ten­tang Pajak Peng­hasi­lan
  81. UU No. 6 Tahun 1983 ten­tang Keten­tu­an Umum dan Tata Cara Per­pa­jakan
  82. UU No. 2 Tahun 1981 ten­tang Metrolo­gi Legal

Down­load UU No.11 Tahun 2020 ten­tang Cip­ta Ker­ja

Keputusan Kadis PTSP DKI JAKARTA Penggunaan KBLI Pada Perizinan Perdagangan

Legalitas.co.id — Dinas penana­man modal dan pelayanan ter­padu satu pin­tu (DPMPTSP) DKI Jakar­ta mener­bitkan per­at­u­ran baru terkait den­gan pene­ta­pan peng­gu­naan kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia pada per­iz­inan bidang Perda­gan­gan yang akan berlaku mulai Sep­tem­ber 2020.

Pene­ta­pan peng­gu­naan KBLI terse­but diatur melalui Kepu­tu­san Kepala Dinas DPMPTSP No. 105 Tahun 2020 Ten­tang Peruba­han Atas Kepu­tu­san Kepala Dinas Penana­man Modal Dan Pelayanan Ter­padu Satu Pin­tu Provin­si Daer­ah Khusus Ibuko­ta Jakar­ta Nomor 20 Tahun 2020 Ten­tang Peng­gu­naan Kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia Pada Per­iz­inan Bidang Perda­gan­gan.

Dalam pasal 1 dise­butkan bah­wa Keten­tu­an dalam Lam­pi­ran Kepu­tu­san Kepala Dinas Nomor 20 Tahun 2020 ten­tang Peng­gu­naan Kode Klasi­fikasi Baku Lapan­gan Usa­ha Indone­sia pada Per­iz­inan Bidang Perda­gan­gan diubah, sehing­ga men­ja­di seba­gaimana ter­can­tum dalam Lam­pi­ran yang meru­pakan bagian tidak ter­pisahkan dan Kepu­tu­san Kepala Dinas ini.

Lam­pi­ran KBLI dap­at dil­i­hat pada link berikut.

Sederhanakan Perizinan Koperasi, Pemerintah Terbitkan Permenkop 9 Tahun 2018

Dalam rang­ka penye­leng­garaan dan pem­bi­naan kegiatan usa­ha kop­erasi ser­ta melin­dun­gi dan menyeder­hanakan per­iz­inan pendiri­an badan hukum kop­erasi, Pemer­in­tah melalui Kementer­ian Kop­erasi dan UMKM Repub­lik Indone­sia mener­bitkan Per­at­u­ran Baru yaitu PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2018 ten­tang PENYELENGGARAAN DAN PEMBINAAN PERKOPERASIAN.

Per­at­u­ran yang res­mi di undan­gkan pada 02 Juli 2018 ini ter­diri dari 168 Pasal.

Diku­tip dari per­at­u­ran terse­but, dalam Bab I Pasal 1 keten­tu­an umum dije­laskan seba­gai berikut :

Dalam Per­at­u­ran Menteri ini yang dimak­sud den­gan:
1. Kop­erasi adalah badan usa­ha yang berang­gotakan orang-seo­rang atau badan hukum Kop­erasi den­gan melandaskan kegiatan­nya berdasarkan prin­sip Kop­erasi sekali­gus seba­gai ger­akan ekono­mi raky­at yang berdasar atas asas kekelu­ar­gaan.

2. Perk­op­erasian adalah segala sesu­atu yang menyangkut kehidu­pan Kop­erasi.
3. Kop­erasi Primer adalah Kop­erasi yang didirikan oleh dan berang­gotakan orang perse­o­ran­gan.
4. Kop­erasi Sekun­der adalah Kop­erasi yang didirikan oleh dan berang­gotakan badan hukum Kop­erasi.
5. Rap­at Anggota adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang memegang kekuasaan tert­ing­gi dalam Kop­erasi.
6. Pen­gawas adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang bertu­gas men­gawasi dan mem­berikan nasi­hat kepa­da Pen­gu­rus.
7. Dewan Pen­gawas Syari­ah adalah Dewan yang dip­il­ih melalui kepu­tu­san Rap­at Anggota yang men­jalankan tugas dan fungsi seba­gai pen­gawas syari­ah.

8. Pen­gu­rus adalah perangkat organ­isasi Kop­erasi yang bertang­gung jawab penuh atas kepen­gu­ru­san Kop­erasi untuk kepentin­gan dan tujuan Kop­erasi, ser­ta mewak­ili Kop­erasi baik di dalam maupun di luar pen­gadi­lan sesuai den­gan keten­tu­an Anggaran Dasar.
9. Sim­panan Pokok adalah sejum­lah uang yang sama banyaknya yang wajib diba­yarkan kepa­da Kop­erasi pada saat masuk men­ja­di anggota, yang tidak dap­at diam­bil kem­bali sela­ma yang bersangku­tan masih men­ja­di anggota.
10. Sim­panan Wajib adalah jum­lah sim­panan ter­ten­tu yang tidak harus sama yang wajib diba­yar anggota kepa­da kop­erasi dalam wak­tu dan kesem­patan ter­ten­tu, yang tidak dap­at diam­bil kem­bali sela­ma yang bersangku­tan masih men­ja­di anggota.
11. Dana Cadan­gan adalah sejum­lah uang yang diper­oleh dari peny­isi­han hasil usa­ha sete­lah pajak yang dimak­sud­kan untuk memupuk modal sendiri dan menut­up keru­gian kop­erasi bila diper­lukan.
12. Hibah adalah pem­ber­ian den­gan sukarela den­gan men­gal­ihkan hak atas uang dan/atau barang kepa­da kop­erasi.
13. Sisa Hasil Usa­ha yang selan­jut­nya dis­ingkat SHU adalah pen­da­p­atan kop­erasi yang diper­oleh dalam satu tahun buku diku­ran­gi den­gan biaya, penyusu­tan dan kewa­jiban lain­nya ter­ma­suk pajak dalam tahun buku yang bersangku­tan.
14. Pin­ja­man adalah penye­di­aan uang atau tag­i­han yang dap­at diper­samakan den­gan itu, berdasarkan per­se­tu­juan atau kesep­a­katan pin­jam mem­in­jam antara kop­erasi den­gan pihak lain yang mewa­jibkan pihak pem­in­jam untuk melu­nasi hutangnya sete­lah jang­ka wak­tu ter­ten­tu dis­er­tai den­gan pem­ba­yaran sejum­lah imbal­an;
15. Stan­dar Akun­tan­si Keuan­gan adalah pedo­man sis­tem pen­catatan dan pengikhti­s­aran transak­si keuan­gan dan penaf­sir­an aki­bat suatu transak­si ter­hadap suatu kesat­u­an ekono­mi yang baku.
16. Modal Peny­er­taan adalah sejum­lah uang atau barang modal yang dap­at dini­lai den­gan uang yang ditanamkan oleh pemodal untuk menam­bah dan mem­perku­at struk­tur per­modalan kop­erasi dalam meningkatkan kegiatan usa­hanya.
17. Oblig­asi Kop­erasi adalah instru­men utang dalam ben­tuk surat berhar­ga yang digu­nakan untuk keper­lu­an pem­bi­ayaan Inves­tasi dalam rang­ka pengem­ban­gan dan/atau restruk­tur­isasi usa­ha, yang diter­bitkan oleh Kop­erasi.
18. Surat Utang Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat SUK adalah surat utang yang dap­at diman­faatkan untuk mem­bi­ayai suatu usa­ha yang dilak­sanakan oleh Kop­erasi atau bek­er­ja sama den­gan pihak lain yang memi­li­ki poten­si mem­berikan hasil yang berke­lan­ju­tan.
19. Prospek­tus adalah keteran­gan ter­tulis dan ter­per­in­ci men­ge­nai kegiatan baru perusa­haan atau organ­isasi yang dise­bar­lu­askan kepa­da umum.
20. Akta Pendiri­an Kop­erasi adalah akta per­jan­jian yang dibu­at oleh para pendiri dalam rang­ka pem­ben­tukan kop­erasi dan memu­at anggaran dasar kop­erasi.
21. Anggaran Dasar Kop­erasi adalah atu­ran dasar ter­tulis yang memu­at keten­tu­an seba­gaimana dimak­sud Pasal 8 Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 ten­tang Perk­op­erasian.
22. Akta Peruba­han Anggaran Dasar Kop­erasi adalah akta per­jan­jian yang dibu­at oleh anggota kop­erasi dalam rang­ka peruba­han anggaran dasar suatu kop­erasi yang berisi perny­ataan dari para anggota kop­erasi atau kuasanya yang ditun­juk dan diberi kuasa dalam suatu rap­at anggota peruba­han anggaran dasar untuk menan­datan­gani peruba­han anggaran dasar.
23. Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat NPAK adalah Notaris yang telah dite­tap­kan atau terdaf­tar seba­gai Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi oleh Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah.

24. Pendiri adalah orang-orang atau beber­a­pa kop­erasi yang memenuhi per­syaratan keang­gotaan dan meny­atakan diri men­ja­di anggota ser­ta hadir dalam rap­at pendiri­an kop­erasi.
25. Kuasa Pendiri adalah beber­a­pa orang, diantara para pendiri yang diberi kuasa oleh para pendiri untuk menan­datan­gani akta pendiri­an dan men­gu­rus per­mo­ho­nan penge­sa­han akta pendiri­an kop­erasi.
26. Sis­tem Admin­is­trasi Badan Hukum Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat SISMINBHKOP adalah perangkat pelayanan jasa teknolo­gi infor­masi Penge­sa­han Akta Pendiri­an Kop­erasi dan Peruba­han Anggaran Dasar secara elek­tron­ik yang dis­e­leng­garakan oleh Menteri.
27. Pemo­hon adalah Pendiri atau Pen­gu­rus Kop­erasi yang secara bersama-sama telah mem­berikan kuasa kepa­da kuasa pendiri atau Notaris Pem­bu­at Akta Kop­erasi untuk men­ga­jukan per­mo­ho­nan penge­sa­han Akta Pendiri­an dan Penge­sa­han Peruba­han Anggaran Dasar Kop­erasi melalui SISMINBHKOP.
28. For­mat Isian adalah ben­tuk for­mulir pengisian data yang dilakukan secara elek­tron­ik yang berisi data per­mo­ho­nan penge­sa­han akta pendiri­an, peruba­han anggaran dasar dan pem­bubaran kop­erasi, ter­ma­suk izin usa­ha sim­pan pin­jam, izin pem­bukaan kan­tor cabang, kan­tor cabang pem­ban­tu, dan kan­tor kas untuk kop­erasi sim­pan pin­jam dan unit sim­pan pin­jam kop­erasi.
29. Beri­ta Acara rap­at adalah catatan hasil rap­at yang pal­ing sedik­it memu­at infor­masi ten­tang hari/tanggal, tem­pat, kuo­rum kehadi­ran, agen­da rap­at, pem­ba­hasan ter­hadap agen­da rap­at, dan kepu­tu­san rap­at yang ditan­datan­gani oleh pimp­inan rap­at, sekre­taris rap­at dan salah seo­rang peser­ta rap­at.
30. Peng­gabun­gan adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh dua atau lebih badan hukum kop­erasi untuk men­ja­di satu badan hukum kop­erasi berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.

31. Pem­ba­gian adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh badan hukum kop­erasi untuk memisahkan satu atau beber­a­pa unit usa­ha men­ja­di badan hukum kop­erasi baru berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.
32. Pele­bu­ran adalah per­bu­atan hukum yang dilakukan oleh dua kop­erasi atau lebih badan hukum kop­erasi untuk men­ja­di satu badan hukum kop­erasi berdasarkan per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.
33. Pem­bubaran adalah pros­es hapus­nya badan hukum kop­erasi yang dap­at dipu­tuskan oleh rap­at anggota kop­erasi atau putu­san pemer­in­tah.
34. Modal Dis­e­tor adalah modal yang dis­e­torkan oleh para pendiri pada saat pendiri­an kop­erasi.
35. Kop­erasi Sim­pan Pin­jam adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha sim­pan pin­jam seba­gai satu-sat­un­ya usa­ha.
36. Kop­erasi Pro­dusen adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan di bidang pen­gadaan sarana pro­duk­si dan pemasaran pro­duk­si yang dihasilkan Anggota kepa­da Anggota dan masyarakat.
37. Kop­erasi Kon­sumen adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan di bidang penye­di­aan barang kebu­tuhan Anggota dan masyarakat.
38. Kop­erasi Jasa adalah Kop­erasi yang men­jalankan usa­ha pelayanan jasa yang diper­lukan oleh Anggota dan masyarakat.
39. Unit Usa­ha Otonom yang selan­jut­nya dis­ingkat UUO adalah bagian yang tidak ter­pisahkan dari kop­erasi, yang dikelo­la secara otonom, yang mem­pun­yai pen­gelo­la, admin­si­trasi dan ner­a­ca keuan­gan, admin­is­trasi usa­ha, anggaran rumah tang­ga tersendiri
40. Tem­pat Pelayanan Kop­erasi yang selan­jut­nya dis­ingkat TPK adalah suatu unit layanan, yang secara fisik keber­adaan­nya dekat den­gan domisili anggota, berfungsi untuk men­gop­ti­malkan pelayanan usa­ha kop­erasi kepa­da anggota dan masyarakat.

41. Ger­akan Kop­erasi adalah keselu­ruhan organ­isasi kop­erasi dan kegiatan perk­op­erasian yang bersi­fat ter­padu menu­ju ter­ca­painya cita-cita dan tujuan kop­erasi.
42. Organ­isasi Perangkat Daer­ah Provinsi/Kabupaten/Kota yang selan­jut­nya dise­but Dinas, adalah perangkat daer­ah yang melak­sanakan uru­san pemer­in­ta­han Provinsi/Kabupaten/Kota di bidang kop­erasi.
43. Hari adalah hari kalen­der.
44. Menteri adalah Menteri yang menye­leng­garakan uru­san pemer­in­ta­han di bidang Kop­erasi.
45. Peja­bat yang Berwe­nang adalah peja­bat yang dite­tap­kan oleh Menteri, untuk dan atas nama Menteri untuk menge­sahkan akta pendiri­an, peruba­han anggaran dasar, dan pem­bubaran kop­erasi.

Dalam BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 166 dise­butkan seba­gai berikut :

Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku:
a. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Nomor 10/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Kelem­ba­gaan Kop­erasi;
b. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Repub­lik Indone­sia Nomor 22/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Kop­erasi Skala Besar;
c. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Nomor 20/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Pen­er­a­pan Akunt­abil­i­tas Kop­erasi;
d. Per­at­u­ran Menteri Kop­erasi dan Usa­ha Kecil dan Menen­gah Repub­lik Indone­sia Nomor 25/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Revi­tal­isasi Kop­erasi;
e. Per­at­u­ran Menteri Nomor 23/Per/M.KUKM/IX/2015 ten­tang Peni­la­ian Indeks Pem­ban­gu­nan Kop­erasi;
diny­atakan dicabut dan tidak berlaku.

Pasal 167
Pada saat Per­at­u­ran Menteri ini mulai berlaku, semua Per­at­u­ran Menteri yang men­gatur atau berkai­tan den­gan pem­bi­naan perk­op­erasian diny­atakan tetap berlaku, sep­a­n­jang tidak berten­tan­gan atau belum digan­ti den­gan yang baru berdasarkan Per­at­u­ran Menteri ini.

PP 24 Tahun 2018, Pelaku Usaha Wajib Daftar Nomor Induk Berusaha (NIB)

Den­gan ter­bit­nya Per­at­u­ran Pemer­in­tah Repub­lik Indone­sia Nomor 24 Tahun 2018 ten­tang Pelayanan Per­iz­inan Berusa­ha Ter­in­te­grasi Secara Elek­tron­ik atauOn­line Sin­gle Sub­mis­sion yang selan­jut­nya dis­ingkat OSS maka seti­ap pelaku usa­ha baik per­oran­gan maupun non per­oran­gan yang melakukan usa­ha wajib melakukan pendaf­taran atau memi­li­ki Nomor Induk Berusa­ha (NIB) kepa­da Lem­ba­ga OSS selaku pener­bit Per­iz­inan Berusa­ha.

Nomor Induk Berusa­ha yang selan­jut­nya dis­ingkat NIB adalah iden­ti­tas Pelaku Usa­ha yang diter­bitkan oleh Lem­ba­ga OSS sete­lah Pelaku Usa­ha melakukan Pendaf­taran.

Untuk men­da­p­atkan Nomor Iden­ti­tas Berusa­ha (NIB) terse­but pelaku usa­ha cukup mendaf­tar atau men­ga­jukan per­mo­ho­nan secara online den­gan men­gak­ses web­site di oss.go.id, dan pada saat melakukan pendaf­tar pemo­hon wajib mem­per­si­pakan sejum­lah doku­men yaitu Akta Notaris perusa­haan yang sudah men­da­p­atkan penge­sa­han dari Kementer­ian Hukum da HAM RI (untuk jenis Badan Hukum PT), NPWP Perusa­haan, KTP dan NPWP Prib­a­di penang­gung jawab perusa­haan.

Selain menyi­ap­kan doku­men terse­but, hal yang pal­ing pent­ing dipastikan adalah NPWP Badan Usa­ha dan NPWP Prib­a­di penang­gung jawab perusa­haan harus dalam kon­disi aktif atau tidak sedang diblokir oleh kan­tor pajak KPP pener­bit NPWP.

Jika per­syaratan terse­but sudah ter­penuhi, maka per­mo­ho­nan NIB pada umum­nya pasti akan dis­e­tu­jui dan diter­bitkan oleh OSS. Dan den­gan adanya NIB ini, para pelaku usa­ha sudah tidak per­lu men­ga­jukan izin usa­ha seper­ti SIUP, TDP, dan izin usa­ha lain­nya lagi, kare­na doku­men-doku­men izin terse­but sudah dis­atukan dalam NIB. Cukup den­gan NIB (Nomor Induk Berusa­ha) yang bisa diu­rus sela­ma 30 menit.

(1) Pemo­hon Per­iz­inan Berusa­ha ter­diri atas :

a. Pelaku Usa­ha perse­o­ran­gan; dan

b. Pelaku Usa­ha non perse­o­ran­gan.

Pelaku Usa­ha perse­o­ran­gan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) huruf a meru­pakan orang per­oran­gan pen­duduk Indone­sia yang cakap untuk bertin­dak dan melakukan per­bu­atan hukum.

(3) Pelaku Usa­ha non perse­o­ran­gan seba­gaimana dimak­sud pada ayat (1) huruf b ter­diri atas:

  1. perseroan ter­batas;
  2. perusa­haan umum;
  3. perusa­haan umum daer­ah;
  4. badan hukum lain­nya yang dim­i­li­ki oleh negara;
  5. badan layanan umum;
  6. lem­ba­ga penyiaran;
  7. badan usa­ha yang didirikan oleh yayasan;
  8. kop­erasi;
  9. perseku­tu­an koman­diter (com­man­di­taire ven­nootschap);
  10. perseku­tu­an fir­ma (venootschap onder fir­ma); dan
  11. perseku­tu­an per­da­ta.

Pada lam­pi­ran PP No. 24 Tahun 2018 ini, sudah ada 39 jenis per­iz­inan usa­ha baik Izin Usa­ha PMA maupun PMDN yang kewe­nan­gan pener­bi­tan­nya telah dilimpahkan kepa­da lem­ba­ga OSS.

Demikian­lah infor­masi seder­hana men­ge­nai pem­bu­atan NIB (Nomor Induk Berusa­ha), semoga infor­masi yang kami sajikan ini bisa mem­ban­tu Anda.


Anda mem­bu­tuhkan jasa pen­gu­ru­san Nomor Induk Berusa­ha (NIB)? Kami adalah ahlinya.

Kami meru­pakan perusa­haan ter­per­caya di Jakar­ta yang sudah lama menye­di­akan jasa pen­gu­ru­san per­iz­inan usa­ha, dim­u­lai dari pen­gu­ru­san pendiri­an perusa­haan, seper­ti Perseroan Ter­batas (PT, PMA), CV, Fir­ma, Yayasan maupun Kop­erasi, (ter­ma­suk juga pen­gu­ru­san Nomor Induk Berusaha/NIB) dll..

Kami siap mem­ban­tu Anda dalam men­da­p­atkan Nomor Induk Berusa­ha (NIB) dan per­iz­inan lain­nya, biarkan kami yang bek­er­ja untuk Anda.